Selasa, 18 Oktober 2022

KHUTBAH JUMAT - MENITI KARIR MENJADI WALIYULLOH, ULAMA DAN TOKOH ITU SEJAK MUDA

 

Maasyirol muslimin

Marilah kita taati perintah2 Alloh, marilah kita tinggalkan larangannya, dan berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk terus berusaha menjadi orang yang taat kepada Alloh dalam arti yang sebenar-benarnya, kita harus berusaha untuk menjaga diri kita dan keluarga kita agar istiqomah dalam mematuhi aturan Alloh dalam setiap kondisi,

Dalam setiap fase kehidupan kita, sejak anak, kita harus belajar taat kepada Alloh, lalu berkembang menjadi pemuda yang patuh Alloh, dengan mengamalkan aturan2 dari Alloh, dan aktif dalam memperjuangkan agama Alloh ,

Agar kita tetap dalam kondisi taat dan taqwa kepada Alloh maka sering-seringlah ingat mati, ingat nikmat akhirat . takut siksa neraka ,

Pupuklah keyakinan bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan mati.

Hal ini penting,                        

Mengapa, karena hati manusia entah pengaruh apa sering berubahrubah, ada orang di masa anak2 , baik sekali, ngaji dan ke masjid tidak pernah ditinggalkan, sopan santun, lembut tutur katanya , tanda2 kesolehan tampak jelas di wajahnya

namun ketika masuk di usia pemuda, kira usia 15 bisa kurang dan lebih berubah menjadi pemuda binal , nakal tak kenal ngaji, nggak pernah sholat, apa lagi baca alquran, padahal dulu semasa masih kanak2 kkebiasaan2 baik itu tidak pernah ditinggalkan, sekarang tidak pernah lepas dg HPnya, pelajaran sekolahnya berantakan, mulai kenal arak-narkoba-miras dan sejenisnya, melai kenal pacaran, bahkan berani berbuat zina, dan dosa2 lainnya,

bayangkan bagaimana perasaan hati orang tuanya, yang dengan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu merawat dan menjaganya siang malam dengan sabar ingin melihat anaknya menjadi orang baik, orang sholih , tapi di permulaan usia remajanya sudah rusak dan bejat akhlaq nya

ibunya pasti menyesal telah melahirkan , menyusui, dan membesarkan anak seperti ini,

namun doa penuh kasih seorang ibu kepada anaknya tidak pernah berhenti siang dan malam di panjatkan kepada Alloh, agar anaknya kembali menjadi anak sholih

ayahnya pasti kecewa berat, mungkin diam2 sang ayah berharap anak yang membawa malu ini, yang setiap hari memproduk dosa cepat mati saja, namun naluri seorang Ayah tetap tidak tega, maka doa penuh kasih kepada anaknya tidak pernah berhenti siang dan malam di panjatkan kepada Alloh, agar anaknya kembali menjadi anak sholih

maasyirol muslimin                          

Pupuklah keyakinan bahwa cepat atau lambat, kita semua pasti akan mati.

karena dengan modal keyakinan ini memudahkan kita untuk dapat merasakan adanya negeri akhirat. Yaitu Alam kelanggengan,

tempat kita disana, di negeri akhirat itu tergantung dari bekal atau pahala yang kita bawa dari dunia.

"Kesadaran" akan hal ini akan dapat memotivasi, bahwa kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah semata-mata arena untuk mengumpulkan pahala,

yaitu dengan jalan taat dan patuh melaksanakan "aturan main" yang ditentukan Allah dan Rasulullah, yang antara lain:

amar makruf nahi mungkar , mendirikan shalat, berserah diri / tawakkal, sabar waktu ditimpa musibah , bertahan dalam kondisi tidak nyaman, sabar waktu diperlakukan zalim oleh orang , melawan kedloliman jika punya kemampuan, meninggalkan perbantahan sedangkan kita merasa benar, berlaku baik kepada orang, menolong orang yang sedang kesusahan, tidak iri hati dengki, tidak takabur/sombong, tidak riya atau pamer, membantu dalam pekerjaan keluarga, tidak menyakiti hati orang dan tidak memutuskan persaudaraan, menjauhkan diri dari sikap amarah, / mudah marah / emosinan, berlaku bijaksana waktu disakiti orang, selalu memohon ampun bila terlanjur melakukan pembangkangan, atau maksiat, tidak bergunjing atau membicarakan aib orang, kecuali dengan tujuan agar orang lain selamat dari kejahatan fitnah yang dilakukannya

tidak berburuk sangka,/ suk dhon, kecuali kepada orang2 yang dikenal licik, dan mempunyai gelagat tidak baik, karena umumnya orang yang tertipu justru dimulai ketika kita husnudllon, silahkan tanya orang2 yang pernah tertipu , awalnya adalah tidak menaruh curiga, lalu percaya dan akhirnya tertipu

kebaikan lainnya , tidak berlaku zalim ( baik itu zalim tindakan, ucapan atau pun pikiran ), selalu ramah, memaafkan orang yang menganiayai kita

selalu ingat Allah ( di waktu duduk, berjalan maupun berbaring )

mendamaikan permusuhan, memuliakan tamu, memenuhi undangan, menjenguk yang sakit, mengajak orang ke jalan Allah, menyampaikan kebenaran, memenuhi janji, berlaku baik terhadap tetangga, mengeluarkan zakat , bersedekah, tidak kikir, menjaga kebersihan, mendoakan orang tua, tidak durhaka kepada orang tua,

berlaku lemah lembut kepada pembantu, mengantarkan jenazah, olah raga agar sehat untuk ibadah kepada Alloh, menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, menyantuni anak yatim,  bersyukur atas nikmat-Nya, melaksanakan haji bagi yang mampu, tidak melakukan syirik, tidak mendatangi dukun dan percaya dukun yang sering dikatakan paranormal atau orang pintar,

bekerja mencari yang halal. Dakwah, jihad membela agama Alloh bukan membela yang mbayar, membela rasululloh ketika dihina,

jangan ketika idolanya di singgung di bela matimatian, namun ketika rosululloh dihina, diam, ketika dzurriyah rosululloh di dholimi mlengos pura2 tidak tau, bahkan hanya sekedar dengan sepenggal kata pembelaan tidak mau dll

maasyirol muslimin

untuk dapat memudahkan taat pada aturan main yang dibuat Allah dan Rasulullah saw., kita harus memiliki fundamen-fundamen yang mantap, yaitu berupa pengertian/pemahaman yang mendalam mengenai konsepsi-konsepsi Allah tentang manusia.

Dengan kata lain , itulah hikmah

Jangan mengharapkan pengertian/pemahaman / hikmah ini datang secara instant, secara cepat, karena pengertian/pemahaman agama ini hanya akan dikuasai setelah melalui proses pencarian yang sungguh sungguh (Al-Israa:19).  

وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا ١٩ ( الاسراۤء/17:19)

19.  Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.,

Bila kita tidak pernah "menghidupkan' proses ini, atau mencari pengertian/pemahaman /hikmah ajaran agama maka kita tidak akan dapat mengerti secara haqul yagin konsepsi-konsepsi Allah terhadap manusia.

Semakin dini proses ini dihidupkan, maka semakin lengkap dan dalam pengertian/pemahaman agama yang akan diperoleh.

Oleh karena itu, bila kita mulai menghidupkan proses ini di usia 60-an , atau mencari pengertian/pemahaman /hikmah ajaran agama setelah pension misalnya, maka dengan umur yang tersisa akan sedikit sekali pengertian/ pemahaman agama yang dapat diperoleh.

Seusia itu sudah banyak sel2 otak yang mati, sehingga pelajaran sederhana sulit dipahami,  

Di usia itu biasanya Penyakit tua satu persatu mulai datang, sehingga badan ini  rasanya malas di ajak ibadah dan belajar

Dan kendala2 lain

ini berarti semakin sulit pula kita dapat taat pada keinginan-keinginan-Nya Alloh.

Fakta sejarah menunjukan, potensi mendapatkan "pencerahan" pemahaman agama paling kuat terdapat pada usia muda, bukan pada usia lanjut.

Pemeluk dan pengikut setia para nabi pun pada awalnya adalah para pemuda.

Tatkala nabi Musa as. mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, maka hanya para pemuda sajalah yang mau mengikuti seruannya [Yunus:83).

فَمَآ اٰمَنَ لِمُوْسٰىٓ اِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّنْ قَوْمِهٖ عَلٰى خَوْفٍ مِّنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهِمْ اَنْ يَّفْتِنَهُمْ ۗوَاِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِى الْاَرْضِۚ وَاِنَّهٗ لَمِنَ الْمُسْرِفِيْنَ ٨٣ ( يونس/10:83)

83.  Tidak ada yang beriman kepada Musa selain keturunan dari kaumnya disertai ketakutan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya yang akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir‘aun benar-benar sewenang-wenang di bumi. Sesungguhnya ia benar-benar termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Begitu juga pada awal Rasulullah saw. menyampaikan risalah Islamnya, para pemudalah yang lebih dulu menyambutnya.

Pemuda-pemuda itu antara lain Ali bin Abi Thalib KR, Abu dzar algiffari, Umar bin Khatab, Sa'ad bin Abi Waqash, Mua'dz bin Jabal, Abdullah bin Mash'ud, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, dan lain-lain yang rata-rata baru menginjak usia 20 tahun.

Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq saat itu usianya belum mencapai 40 tahun. Artinya Masih muda

Demikian pula ketika masyarakat keranjingan menyembah berhala, tampil pula pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala yang mereka sembah (Al-Anbiyaa':60).

قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ ۗ ٦٠ ( الانبياۤء/21:60)

60.  Mereka (para penyembah berhala yang lain) berkata, “Kami mendengar seorang pemuda yang mencela mereka (berhala-berhala). Dia dipanggil dengan nama Ibrahim.”

Kita pun mengenal sikap teguh para pemuda yang menentang kompromi antara kebatilan dan kebenaran dalam kisah para penghuni gua (ashabul kahfi); yang pada akhirnya mereka ditidurkan Allah selama 309 tahun [Al-Kahfi:25]

وَلَبِثُوْا فِيْ كَهْفِهِمْ ثَلٰثَ مِائَةٍ سِنِيْنَ وَازْدَادُوْا تِسْعًا ٢٥ ( الكهف/18:25)

25.  Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.

Begitu juga para nabi seperti nabi Yusuf as, Isa as., dan lain-lainnya, mereka menjadi nabi dalam usia muda.

Hal ini semua menunjukan bahwa potensi untuk menangkap pencerahan, hidayah, hikmah, pemahaman terhadap agama paling kuat terdapat pada usia muda, bukan setelah tua,  

Begitu pula karir waliyulloh , seperti syeh abdul qodir jailani, hasan basri . raden patah, sunan gresik, dll memulai karir kawaliannya juga waktu masih muda

ulama seperti imam syafii , hambali kh hasyim asyari, KH ahmad dahlan dll, juga memulai karir keulamaannya waktu masih muda

begitu juga tokoh2 islam seperti sukarno, hatta, muhammad nasir , tan malaka, dll  , mereka semua memulai karir ke-tokohannya sejak waktu masih muda bahkan sejak anak2, lanjut ke usia muda . hingga dewasa

Mereka menjadi tokoh tidak tiba2, tidak instan, tidak menjadi tokoh karena menyebar baliho dimana-mana , mereka menjadi tokoh tidak karena membayar pelacur2 intelektual kere. Tidak Membeli ulama2 rakus dunia, tidak menyogok politisi2 busuk

Tapi mereka merintis sejak masa anak2 hingga dewasa,            

Wahai pemuda purwosari khususnya, bangkitlah pelajari islam, pahami islam, amalkan islam , perjuangkan islam, menangkan islam

Kemenangan islam adalah rahmat untuk semua orang, kekalahan islam berarti bencana , penderitaan dan kehinaan,

Indonesia Emas adalah Indonesia ketika puncak peradaban islam memimpin, bukan mengekor

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وَمَا اَرْسَلْناكَ اِلَّا كَا فَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلاكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا ٦٩ ( النساۤء/4:69)

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 

 

 

 

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. 

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. 

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. 

يا الله يا سميع يا بديع يا رفيع يا واسع يا حافظ يا مقيت يا مجيب خلصنا من الوباء

يا رب.. نجّ الشباب.. نج الشباب.. من هموم الحياة.. ومما يواجهه من الأهوال والصعاب.. اللهم زوج عزَّابهم.. وحصَّن فروجهم.. وجنبهم قُرناء السوء.. واحفظهم من الفتن ما ظهر منها وما بطن.. اللهم ارزق شباب المسلمين عفة يوسف عليه السلام.. وارزق بنات المسلمين طهارة مريم عليها السلام.. واحفظهم كما حفظت الأولين.. ونَجِّهِمْ بفضلك وقوتك يا قوى يا متين.. واحفظ نساء المسلمين من شر خلقك أجمعين.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ..

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

Jumat, 16 September 2016

AKAL,WAHYU DAN JALAN MENGENAL TUHAN

AKAL,WAHYU DAN JALAN MENGENAL TUHAN

Pengenalan dan pengetahuan akan keberadaan Tuhan merupakan hal yang asasi dan prinsip bagi manusia yang beragama, meskipun nantinya konsep tentang Tuhan berbeda sesuai dengan doktrin-doktrin suci agama dan penafsiran aliran kepercayaan masing-masing. Tapi pada intinya, semua agama dan aliran kepercayaan tersebut menegaskan dan membenarkan wujud suci dan agung Tuhan.

Jika kita ingin mengindentifikasi metode-metode pencapaian makrifat kepada Tuhan oleh setiap orang, maka bisa kita katakan bahwa setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri dalam meraih makrifat tersebut. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa jalan-jalan menuju Tuhan sebanyak jiwa-jiwa makhluk yang ada di alam ini. Tetapi apabila kita ingin meninjau sisi yang sama dari jalan-jalan makrifat kepada Tuhan tersebut, maka terdapat beberapa pendekatan universal yang dapat mencakup semua manusia. Di bawah ini terdapat beberapa metode dalam pencapaian makrifat kepada Tuhan, antara lain:

a. Metode Argumentasi

Cara ini dapat ditempuh dan dijalani oleh setiap orang yang memiliki akal sehat, sebab cara ini menggunakan premis-premis dan prinsip-prinsip rasionalitas dalam menetapkan eksistensi Tuhan, sifat dan perbuatan Tuhan. Namun dalam metode ini juga terdapat tingkatan-tingkan argumentasi dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit dan filosofis (dengan argumentasi filsafat).

b. Metode Syuhudi

Cara ini, jika ditinjau dari segi epistemologi memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari metode argumentasi di atas, sebab dalam syuhudi manusia mengenal Tuhan dengan ilmu huduri, sedangkan pada metode pertama dengan ilmu husuli. Cara ini dijalani dengan pembersihan dan pensucian nafs (jiwa) lewat pendisiplinan diri pada tingkatan-tingkatan spiritual hingga mencapai maqam "penyaksian" Tuhan dan dengan pandangan batin memandang sifat jalal dan jamal-Nya.

c. Metode Kontemplasi

Manusia dalam perjalanan hidupnya senantiasa dipenuhi dengan rasa ingin tahu terhadap apa yang dihadapannya, sebab itu apa saja yang disaksikannya senantiasa memotivasinya untuk mengenal dan mengetahuinya lebih jauh dan lebih dalam. Dan dengan berpikir terhadap fenomena-fenomena alam yang disaksikannya serta hubungan satu sama lainnya bisa mengantarkannya pada penemuan akan keberadaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya seperti ilmu, iradah, hikmah dan kekuasaan. Jalan ini bersandar pada pengamatan dan penyaksian alam natural, sebab itu disebut jalan perenungan dan observasi. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya jalan ini tidak dapat dicapai tanpa menggunakan prinsip-prinsip akal.

d. Metode Akal


Jalan ini menggunakan premis-premis akal dan logika serta metode-metode argumentasi yang murni bersandar pada kaidah akal dalam pembuktikan keberadaan Tuhan dan menetapkan sifat-sifat khusus yang layak bagiNya, seperti hidup, ilmu, hikmah, iradah, dan kuasa,  serta membersihkan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak, seperti bermateri, beranak dan terbatas .

tunggu kelanjutannya


Kamis, 18 Februari 2016

SILAHKAN DONLOT RATUSAN RIBU BUKU DAN KITAB

(موسوعة الكتب الإلكترونية المجانية)
أضخم وأكبر المكتبات العربية الإلكترونية المجانية لكتب والأبحاث والرسائل العلمية
مكتبات متخصصة في كل المجالات متنوعة في كافة العلوم الإنسانية وكل ما تحتاجه من كتب ومجلدات ستجده ضمن هذه المكتبات
فقط أضغط على الرابط ليفتح:
1- مكتبة المصطفى
http://www.al-mostafa.info/books/htm/disp.php?page=list&n=44
2- مكتبة الإسكندرية
http://www.bib-alex.com/
3- جامع الكتب المصورة
http://kt-b.com/
4- مليون كتاب الكتروني
http://search.4shared.com/q/1
5- خزانة الكتب
http://www.al-eman.com/%D8%A7%D9%84%D9%83%D8%AA%D8%A8/p1
6- المكتبة الوقفية
http://www.ibtesama.com/vb/urls.php?ref=http://www.waqfeya.com/index.php
7- مكتبة الكتاب العربي
http://www.arabicebook.com/
8- مكتبة صيد الفوائد
http://www.saaid.net/book/index.php
9- مكتبة الوراق
http://www.alwaraq.net/Core/index.jsp?option=1
10 – مكتبة ستار للحاسب الآلي والبرمجيات
http://www.star28.com/book/index.html
11- مكتبة نهلة
http://nahlabooks.blogspot.com/
12- مكتبة الكتب
http://www.kutub.info/library
13- المكتبة الإلكترونية المتنوعة
http://www.y-ebooks.com/
14- مكتبة المشكاة الإسلامية
http://www.almeshkat.net/books/index.php
15- هنا مكتبتي
http://huna-maktbty.blogspot.com/
16- مكتبة لقيت روحي
http://www.roo7e.com/book/indexcat-6.html
17- مكتبة صحبة نت
http://www.sohbanet.com/vb/forumdisplay.php?f=74
18- مكتبة الجليس
http://www.aljlees.com/
19- كتابي دوت كوم
http://www.ktaby.com/
20- مكتبة الشرق الأوسط
http://www.library.yale.edu/ameel/
21- المكتبة الإلكترونية للمنتدى العلمي الثقافي
http://www.3rbsc.com/vb/forumdisplay.php?f=59
22- – المكتبة العربية
http://abooks.tipsclub.com/
23- مكتبة الولف
http://books.al-wlf.com/
24- مكتبة الكتاب العربي
http://www.arabworldbooks.com/E-Books/e_books.html
25- مكتبة بتر لايف
http://www.betterlifestore.org/
26- مكتبة نبع الوفاء
http://www.s0s0.com/
27- مكتبة الأوائل
http://www.trytop.com/
28- مكتبة جسد الثقافة
http://aljsad.com/forums.php
29- المكتبة الالكترونية المجانية
http://www.fiseb.com/
محركات مواقع البحث عن الكتب والرسائل الجامعية:
أولا: محركات البحث عن الكتب الأجنبية
(1)
http://ebookee.org/
(2)
http://www.free-ebooks.net/
(3)
http://www.ebookbusiness.org/
(4)
http://bookboon.com/
(5)
http://www.freebookspot.es/
(6)
http://vnuki.org/library/
(7)
http://libgen.info/index.php
(8)
http://www.scribd.com/
Username: businessdatabases
Bassword: business@2011
………………………………………….. ………
ثانيا: محركات البحث عن الرسائل العلمية
رسائل الماجستير والدكتوراه داخل مصر
(1)
قاعدة بيانات الرسائل العلمية بالجامعات المصرية
http://www.eulc.edu.eg/
رسائل الماجستير والدكتوراة خارج مصر
(1)
Proquest Dissertations & Theses: Full Text
http://proquest.umi.com/pqdweb
Username: UITMUSER01
Password: welcome
(2)
http://pqdtopen.proquest.com/
With PQDT Open, you can read the full text of open access dissertations and theses free of charge.
(3)
NDLTD UNION CATALOG
أكبر محرك بحث مجانى للرسائل العلمية على الانترنت
http://www.ndltd.org/serviceproviders/scirus-etd-search
(4)
محرك بحث عالمى لرسائل الماجستير والدكتوراة
The Ohio Library and Information Network
http://search.ohiolink.edu/etd/index.cgi
(5)
محرك بحث عالمى لرسائل الماجستير والدكتوراة
Cybertesis
http://www.cybertesis.edu.pe/sdx/sisbib/
(6)
محرك رسائل الماجستير والدكتوراة فى استراليا
ADT (Australiasian Digital Theses Program)
http://trove.nla.gov.au/book/result?…ortby=dateDesc
(7)
محرك رسائل الماجستير والدكتوراة فى البرازيل
Biblioteca Digital de Teses e Dissertacoes
http://bdtd.ibict.br/
(8)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الجامعات الالمانية
Deusche National Bibliothek
http://www.d-nb.de/eng/index.htm
(9)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الدول الاسكندنافية
DiVA
http://www.diva-portal.org/
(10)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الجامعات الانجليزية
EThOS
http://ethos.bl.uk/
(11)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الجامعات الهولندية
NARCIS
http://www.narcis.info/
(12)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى جنوب أفريقيا
National ETD Portal (South Africa)
http://www.netd.ac.za/
(13)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الجامعات البرتغالية
RCAAP – Repositório Científico de Acesso Aberto de Portugal
http://www.rcaap.pt/
(14)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى جامعات كندا
Theses Canada
http://www.collectionscanada.gc.ca/thesescanada
(15)
رسائل الماجستير والدكتوراة فى الجامعات الهندية
Shodhganga@INFLIBNET Centre
http://ir.inflibnet.ac.in:8080/
Ebookee: Free Download eBooks Search Engine!
ebookee.org
EBOOKEE is a free ebooks search engine, the best free ebooks download library. It’s the open directory for free ebooks and download links, and the best place to read ebooks and search free
دعواتكم بظاهر الغيب مقبولة إن شاء الله
الرجوع الى أعلى الصفحة

Selasa, 31 Maret 2015

KUPAS TUNTAS TENTANG HURUF JER

HURUF JER SERING KITA JUMPAI KETIKA KITA MEMBACA KITAB GUNDUL ,
MASING MASING HURUF JER MEMPUNYAI BEBERAPA MAKNA .
BAHKAN SERING SATU HURUF JER MAKNANYA SAMA DENGAN MAKNA HURUF JER LAINNYA .
INILAH YANG SERING MEMBINGUNGKAN KITA

UNTUK MENGURANGI KEBINGUNGAN DAN KITA BISA MEMBERI MAKNA HURUF JER DENGAN TEPAT SAYA SAMPAIKAN DIHADAPAN ANDA SEKALIAN PEMBAHASAN HURUF JER YANG CUKUP TERPERINCI


( حروف الجر ) معانيها وانواعها
حروفُ الجرِّ عشرون حرفاً، وهي "الباء ومِن وإلى وعن وعلى وفي والكافُ واللاَّمُ وواوُ القَسَمِ وتاؤهُ ومُذْ ومُنذُ ورُبَّ وحتى وخَلا وَعدَا وحاشا وكي ومتى - لي لُغَةِ هُذَيل - ولَعَلَّ في لغة عُقَيل".
وهذهِ الحروف منها ما يختصّ بالدخولِ على الاسمِ الظاهر، وهو "رُبَّ ومُذْ ومُنذُ وحتى والكافُ وواوُ القسمِ وتاؤهُ ومتى". ومنها ما يدخلُ على الظاهر والمَضمَر ، وهي البواقي.
واعلم أنَّ من حروفِ الجرِّ ما لفظُهُ مُشترَكٌ بينَ الحرفيّةِ والاسميّة ، وهو خمسةٌ " الكافُ وعن وعلى ومُذْ ومُنذُ ". ومنها ما لفظُهُ مُشتركٌ بينَ الحرفيّة والفعليّةِ ، وهو " خلا وعدا وحاشا ". ومنها ما هو ملازم للحرفيّة، وهو ما بقي . وسيأتي بَيانُ ذلك في مواضعهِ.
لماذا سُمّيتْ حروف جر ؟ وهل لها تسمياتٌ أُخَر ؟
وسُمّيت حروف الجرّ، لأنّها تَجرُّ معنى الفعل قبلَها إلى الاسم بعدَها ، أو لأنّها تجرُّ ما بعدَها من الأسماءِ ، أي تَخفِضُه.
وتسمّى "حروفَ الخفض" أيضاً، لذلك. وتُسمّى أيضاً "حروف الإضافة"، لأنها تُضيفُ معانيَ الأفعال قبلها إلى الأسماء بعدها. وذلك أنَّ من الأفعال ما لا يَقوَى على الوصول إلى المفعول به، فَقوَّوه بهذه الحروف، نحو "عجبتُ من خالدٍ، ومررتُ بسعيدٍ". ولو قلتَ "عجبتُ خالداً. ومررتُ سعيداً"، لم يُجُز، لضعف الفعل اللازم وقُصورهِ عن الوصول إلى المفعول به، إلا أن يَستعينَ بحروف الإضافة.
- معاني حُرُوفِ الجَرِّ
1- الباء
الباءُ لها ثلاثةَ عشرَ معنًى :
1- الإلصاقُ وهو المعنى الأصليُّ لها. وهذا المعنى لا يُفارقُها في جميع معانيها.

والإلصاقُ إمّا حقيقيّ، نحو "أمسكتُ بيدِكَ. ومسحتُ رأسي بيدي"، وإمّا مجازيٌّ، نحو "مررتُ بدارِكَ، أو بكَ"، أي بمكانٍ يَقرُبُ منها أو منكَ.
2- الاستعانةُ، وهي الداخلةُ على المستعانِ به - أي الواسطة التي بها حصلَ الفعلُ - نحو "كتبتُ بالقلم. وبَرَيتُ القلمَ بالسكينِ". ونحو "بدأتُ عملي باسمِ الله، فنجحتُ بتوفيقهِ".
3- السّببيةُ والتَّعليلُ، وهي الداخلةُ على سبب الفعل وعِلَّتهِ التي من أجلها حصلَ، نحو "ماتَ بالجوعِ"، ونحو "عُرِفنا بفلانِ". ومنه قولهُ تعالى { فَكُلاُّ أخَذْنا بذنبه }، وقولهُ { فبِما نقضِهم ميثاقَهمْ لَعنّاهم }.
4- التّعديةُ، و تُسمّى باءَ النّقلِ ، فهي كالهمزةِ في تصييرها الفعلَ اللازمَ مُتعدِّياً، فيصيرُ بذلك الفاعلُ مفعولاً، كقوله تعالى { ذهبَ الله بِنُورهم }، أي أذهبهُ، وقولهُ { وآتيناهُ من الكُنوزِ ما إنَّ مَفاتِحَهُ لتَنُوءُ بالعُصبة أُولي القوّة } .
5- القسمُ ، وهي أصلُ أحرُفهِ. ويجوز ذكرُ فعلِ القسمِ معها؛ نحو "أُقسم بالله". ويجوزُ حذفُهُ، نحو "باللهِ لأجتهدَنَّ". وتدخلُ على الظاهرِ، كما رأيتَ، وعلى المُضَمرِ، نحو "بكَ لأفعلنَّ" قال تعالى ( فبعزتك لأغوينهم أجمعين ).
6- العَوَضُ، وتسمى باءَ المقابلةِ أيضاً، وهي التي تَدُلُّ على تعويض شيءٍ من شيءٍ في مُقابلةِ شيءٍ آخرَ، نحو "بِعتُكَ هذا بهذا. وخُذِ الدارَ بالفرسِ".
7- البدَلُ ، وهي التي تدلَّ على اختيار أحدِ الشيئينِ على الآخرِ، بلا عِوَضٍ ولا مقابلةٍ، كحديث "ما يَسُرُّني بها حُمْرُ النّعَم"،
8- الظرفيّةُ - أي معنى (في) - كقوله تعالى { لَقَد نَصرَكمُ اللهُ بِبَدْرٍ } { وما كنتَ بجانبِ الغربي}.{ نجّيناهم بِسَحر}.{ وإنَّكم لَتَمُرون عليهم مصبِحينَ وباللّيلِ }.
9- المصاحبةُ ، أي معنى "معَ"، نحو "بعتُكَ الفَرَسَ بسرجهِ، والدارَ بأثاثها"، ومنه قولهُ تعالى "إهبِطْ بسلام".
10- معنى "مِن" التَّبعيضيّةِ، كقولهِ تعالى "عَيناً يشربُ بها عبادُ اللهِ"، أي منها.



11- معنى "عن"، كقولهِ تعالى { فاسأل به خبيراً }، أي عنهُ، وقولهِ { سأل سائلٌ بعذابٍ واقعٍ }، وقوله { يَسعى نورُهم بينَ أيديهم وبأيمانِهم }.
12- الاستعلاءُ، أي معنى "على" كقوله تعالى "{ ومن أهلِ الكتابِ مَن إن تَأمَنهُ بِقِنطارٍ يُؤدَّهِ إليكَ" }، إي على قنطار
13- التأكيدُ، وهي الزائدةُ لفظاً، أي في الإعراب، نحو "بِحَسبِكَ ما فعلتَ"، أي حَسبُك ما فعلتَ. ومنهُ قوله تعالى { وكفى باللهِ شهيداً }، وقولهُ { أَلم يعلم بأنَّ اللهَ يرى }، وقولهُ { ولا تُلقوا بأيديكم إلى التّهلُكة }، وقولهُ { أَليس الله بأحكمِ الحاكمين } .

2- مِنْ
مِنْ لها ثمانيةُ مَعانٍ
1- الابتداءُ، أَي ابتداءُ الغايةِ المكانيّةِ أو الزمانيّةِ. فالأول كقولهِ تعالى { سبحانَ الذي أسرى بعبدهِ ليلاً من المسجد الحرامِ إلى المسجد الأقصى }. والثاني كقوله { لَمَسجدٌ أُسسَ على التّقوى من أوَّلِ يوم أَحَقُّ أَن تقومَ فيهِ }. وتَرِدُ أَيضاً لابتداء الغاية في الأحداث والأشخاص. فالأول كقولك "عَجبتُ من إقدامك على هذا العمل"، والثاني كقولك "رأيتُ من زهير ما أُحبُّ".
2- التّبعيضُ، أي معنى "بعض"، كقولهِ تعالى { لن تنالوا البرَّ حتى تُنفقوا ممّا تُحبُّونَ } أي بعضَهُ، وقولهِ " { منهم من كلّمَ اللهَ } "، أَي بعضُهم. وعلامتُها أَن يَخلُفَها لَفظُ "بعضٍ".
3- البيانُ، أي بيانُ الجنس ، كقوله تعالى { واجتنبوا الرجسَ من الأوثانِ }. قولهِ { يُحَلَّونَ فيها من أَساورَ من ذهبٍ }. وعلامتُها أَن يصحَّ الإخبارُ بما بعدَها عمّا قبلها، فتقول الرجس هي الأوثانُ، والأساورُ هي ذهب.
واعلم أَن "من" البيانيّةَ ومجرورَها في موضعِ الحال مما قبلَها، إن كان معرفةً، كالآية الأولى، وفي موضع النّعتِ له إن كان نكرة، كالآية الثانية. وكثيراً ما تَقَعُ "من البيانيّةُ" هذهِ بعد "ما ومهما"، كقوله تعالى {ما يَفتَحِ اللهُ للناسِ من رحمةٍ فلا مُمسِكَ لها}، وقولهِ { ما ننْسَخْ من آيةٍ }، وقولهِ { مهما تأتِنا به من آية }.
4- التأكيدُ، وهي الزائدة لفظاً، أي في الإعراب،وكثيراً ماتزاد بعد النفي كقوله تعالى { ما جاءنا من بشيرٍ }، وبعد الإستفهام مثل قوله تعالى ( هل على خروج من سبيل ) .
5 – البدلية بمعنى بدل ، وقولهِ { لن تُغنيَ عنهم أموالُهم ولا أولادُهم من الله شيئاً }، أي بَدَلَ الله، والمعنى بَدَلَ طاعتهِ أو رحمتهِ. وقد تقدَّم معنى البدل في الكلام على الباءِ.
6- الظَّرفيّة، أَي معنى (في)، كقوله سبحانهُ { ماذا خَلقوا من الأرض }، أي فيها، وقولهِ { إذا نُوديَ للصّلاة من يومِ الجمعة }، أي في يومها.
7- السّببيّةُ والتّعليلُ، كقوله تعالى { مِمّا خطيئاتِهم أُغرِقوا } .
8- معنى "عن"، كقولهِ تعالى { فَوَيلٌ للقاسيةِ قُلوبُهم من ذِكر الله }، وقولهِ { يا وَيلَنا لَقَد كُنّا في غفلة من هذا } .

3- إِلى
إلى لها ثلاثة معانٍ
1- الانتهاءُ، أي انتهاءُ الغايةِ الزمانيّة أو المكانيّة. فالأولُ كقولهِ تعالى { ثُمَّ أَتِمُّوا الصيامَ إلى الليل }، والثاني كقولهِ { من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى }.
وترِدُ أيضاً لانتهاء الغاية في الأشخاص والأحداث. فالأولُ نحو "جئتُ إليك"، والثاني نحو "صِلْ بالتّقوى إلى رضا الله".
ومعنى كونها للانتهاءِ أنها تكونُ منتهًى لابتداء الغاية.
أمّا ما بعدَها فجائزٌ أن يكون داخلاً جُزءٌ منه أو كلُّهُ فيما قبلَها، وجائزٌ أن يكونَ غيرَ داخل. فإذا قلتَ "سرتُ من بيروتَ إلى دمَشقَ"، فجائزٌ أن تكون قد دخلتَها، وجائزٌ أنك لم تدخلها، لأنَّ النهايةَ تشملُ أولَ الحدّ وآخرَهُ. وإنما تمتنعُ مجاوزتُهُ. ومن دخول ما بعدَها فيما قبلَها قولهُ تعالى { إذا قُمتُم إلى الصَّلاة فاغسِلوا وُجوهكُم وأيديَكُم إلى المَرافِق }. فالمَرافق داخلةٌ في مفهوم الغسل
2- المصاحبةُ، أي معنى "معَ" كقوله تعالى { قال مَن أنصاري إلى الله } أي معهُ، وقولهُ { ولا تأكلوا أموالَهم إلى أموالكم }، ومنهُ قولهم "الذَّوْدُ إلى الذَّوْدِ إبلٌ"، وتقولُ "فلانٌ حليمٌ إلى أدبٍ وعلمٍ".
3- معنى "عند"، وتُسَمّى المُبَيّنَة، لأنها تُبينُ أن مصحوبها فاعلٌ لما قبلها. وهي التي تقعُ بعدَ ما يفيدُ حُباً أو بُغضاً من فعل تعجّبٍ أو اسمِ تفضيلٍ، كقوله تعالى "{ قال رب السّجنُ أحَب إليَّ مِمّا يدعونني إليه }"، أي أحبُّ عندي

4- حَتَّى
حتى للانتهاء كإلى، كقوله تعالى { سلامٌ هيَ حتى مَطلَعِ الفجر }. وقد يدخلُ ما بعدَها فيما قبلها ، نحو "بَذَلتُ ما لي في سبيل أُمَّتي، حتى آخر دِرهمٍ عندي ". وقد يكون غيرَ داخلٍ، كقوله تعالى {كلوا واشربوا حتى يَتبيّن لكمُ الخيطُ الأبيضُ من الخيط الأسود من الفجر}، فالصائم لا يُباحُ له الأكلُ متى بدا الفجر.
واعلم أن هذا الخلافَ إنما هو في "حتى" الخافضة. وأما "حتى"العاطفة، فلا خلاف في أن ما بعدَها يجبُ أن يدخلَ في حكم ما قبلها .

5- عَنْ
عن لها ستة معانٍ
1- المجاوزةُ والبُعدُ، وهذا أصلُها، نحو "سرتُ عن البلدِ. رَغِبتُ عن الأمر. رَمَيت السهمَ عن القوس".
2- معنى "بَعد"، نحو عن قريبٍ أزُورُكَ "، قال تعالى { عمّا قليلٍ لَتُصبحُنَّ نادمين }، وقال { لَتركبُنَّ طَبَقاً عن طبَقٍ }، أي حالاً بعدَ حالٍ.
3- معنى "على" كقولهِ تعالى { ومَن يَبخَلْ فإنما بَبخَلُ عن نفسه } ،أي عليها
4- التَّعليلُ ، كقولهِ سبحانه { وما نحنُ بتاركي آلهتِنا عن قولك }، أي من أجل قولك، وقولهِ { وما كان استغفارُ إبراهيمَ لأبيهِ إلا عن مَوعِدةٍ وعَدَها إيّاهُ }.
5- معنى "مِن" كقوله سبحانه { وهو الذي يَقبَلُ التَّوبةَ عن عبادهِ }، وقولهِ { أُولئكَ الذين يَتقبّلُ عنهم احسنَ ما عَمِلوا }، أَي منهم.
6- معنى البَدَل كقولهِ تعالى { واتَّقوا يوماً لا تجزي نَفسٌ عن نَفسٍ شيئاً }، أَي بَدل نفس ، وكحديثِ " صومي عن أُمك "، وتقولُ " قُمْ عني بهذا الأمر "، أَي بَدَلي.
واعلم أنَّ "عن" قد تكونُ اسماً بمعنى "جانِبٍ"، وذلك إذا سُبقت بِمن ،
كقول الشاعر
فَلَقَدْ أَراني لِلرِّماحِ دَريئَةً * مِنْ عَنْ يَميني تارَةً وِشمالي *
وقول الآخر
*وَقُلْتُ اجعَلي ضَوْءَ الفَراقِدِ كُلِّها * يَميناً. وَمَهْوى النَّجْمِ مِنْ عَنْ شِمالِكِ*

6- عَلَى
على لها ثمانيةُ مَعانٍ
1- الاستعلاءُ ، حقيقةً كان، كقولهِ تعالى { وعليها وعلى الفُلكِ تُحمَلونَ }، أو مجازاً، كقولهِ { وفَضّلناهم بعضَهم على بعض }، ونحو " لفلانٍ عليَّ دَينٌ ". والاستعلاءُ أصلُ معناها.
2- معنى "في"، كقوله تعالى { ودخلَ المدينةَ على حين غَفلةٍ من أهلها } أي في حين غفلة..
3 – معنى ( عن ) مثل قولهم : إذا رضيت عليّ بنو قشير .
4- معنى اللام ، التي للتعليل، كقوله تعالى { ولتُكَبّروا اللهَ على ما هداكم }، أي " لهِدايتهِ إيّاكم
5- معنى " مَعَ "، كقولهِ تعالى { وآتَى المالض على حُبّهِ }، أي معَ حُبهِ، وقولهِ { وإنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغفرةٍ للناسِ على ظُلمهم }، مع ظُلمهم.
6- معنى "من"، كقولهِ سبحانَهُ { إذا اكتالوا على الناسِ يَستَوفونَ } أي اكتالوا منهم.
7- معنى الباءِ، كقولهِ تعالى { حَقيقٌ عليَّ أن لا أقولَ إلاّ الحق }، أي حقيقٌ بي، ونحو "رمَيتُ على القوس"، أي رميتُ مستعيناً بها، ونحو "اركبْ على اسمِ الله"، أي مستعيناً به.
8- الاستدراكُ، كقولكَ "فلانٌ لا يدخلُ الجنةَ لِسوءِ صنيعهِ، على أنهُ لا يَيأسُ من رحمة اللهِ"، أي لكنَّهُ لا ييأسُ

7- في
في لها سبعةُ مَعانٍ
1- الظرفيّةُ، حقيقيّةً كانت، نحو "الماءُ في الكوز. سرتُ في النّهار". وقد اجتمعت الظرفيّتانِ الزمانيّة والمكانيّةُ في قولهِ تعالى { غُلبتِ الرُّومُ في أَدنى الأرض. وهم مِن بَعْدِ غَلَبِهمَ سَيَغلِبونَ في بِضعِ سنينَ }، أَو مجازيَّةً، كقوله سبحانه { ولَكُم في رسول اللهِ أُسوةٌ حسنةٌ }، وقولهِ { ولَكُم في القصاصِ حياةٌ }.
2- السببيّة والتّعليلُ ، كقولهِ تعالى { لَمَسّكم فيما أَفضتُم فيه عذابٌ عظيم } أي بسبب ما أَفضتم فيه. ومنه الحديثُ الشريف " دخلتِ امرأَةٌ النارَ في هِرَّةٍ حَبَستها " أي بسبب هِرَّةٍ.
3- معنى "معَ" كقولهِ تعالى { قال ادخلوا في أمَمٍ قد خَلَت من قبلكم } أي مَعَهم.
4- الاستعلاءُ - بمعنى "عَلى" - كقولهِ تعالى { لأصلبنّكُم في جُذوعِ النّخلِ }، أي عليها.
5- المُقايَسةُ - وهيَ الواقعةُ بينَ مفضولٍ سابقٍ وفاضلٍ لاحقٍ، كقولهِ تعالى { فما مَتاعُ الدنيا في الآخرةِ إلا قليلٌ }، أي بالقياس على الآخرة والنسبة إليها.
6- معنى الباءِ، التي للالصاقِ، كقول الشاعر
*ويَرْكَبُ يَوْمَ الرَّوْعِ مِنَّا فَوارِسٌ * بَصيرُونَ في طَعْنِ الأَباهِرِ والْكُلى*
أي بصيرونَ بطعنِ الأباهر.
7- معنى " إلى " كقولهِ تعالى { فَرَدُّوا أيديَهم في أفواههم }.

8- الكاف
الكافُ لها أَربعةُ معانٍ
1- التشبيهُ، وهو الأصلُ فيها، نحو " عليٌّ كالأسد ".
2- التّعليلُ، كقوله تعالى { واذكرُوهُ كما هداكم }، أَي لهدايتهِ إيّاكم. وجعلوا منه قوله تعالى { وَيْ كأنّهُ لا يُفلحُ الكافرون }. أَي أعجبُ أَو تَعجّبْ لعَدم فلاحهم. فالكافُ حرف جر بمعنى اللام، وأنَّ هي الناصبةُ الرافعة.
3- معنى "على" نحو " كن كما أَنتَ" ، أَي كُن ثابتاً على ما أنت عليه.
4- التّوكيدُ - وهي الزائدةُ في الإعراب - كقولهِ تعالى { ليس كمِثلهِ شيءٌ }، أي ليس مِثلهُ شيءٌ ، وقولِ الرَّاجز يَصفُ خيلاً ضوامرَ "لَواحِقُ الأقرابِ، فيها كالمقَق".

9- اللاَّم
اللامُ لها خمسةَ عشرَ معنى
1- الملِكُ - وهي الداخلة بين ذاتينِ، ومصحوبُها يَملِكُ - كقوله تعالى { للهِ ما في السَّمواتِ والأرضِ }، ونحو "الدارُ لسعيدٍ".
2- الاختصاصُ، وتُسمَّى لامَ الاختصاصِ، ولامَ الاستحقاقِ - وهي الداخلة بين معنًى وذات - نحو "الحمدُ للهِ" والنجاحُ للعاملين, ومنه قولهم "الفصاحةُ لِقُرَيشٍ، والصبّاحةُ لِبَني هاشمٍ".
3- شِبهُ المِلك. وتُسمّى لامَ النسبة - وهي الدَّاخلة بينَ ذاتينِ، ومصحوبُها لا يملِكُ - نحو "اللجامُ للفرَس".
4- التّبيينُ، وتُسمّى "اللاّمَ المُبيّنة"، لأنها تُبيِّنُ " أنّ مصحوبَها مفعولٌ لما قبلَها"، من فعل تعَجُّبٍ أو اسمِ تفضيل، نحو "خالدٌ أحب لي من سعيدٍ. ما أحبّني للعلم!. ما أحملَ عليّاً للمصائب!". فما بعدَ اللام هو المفعول به. وإنما تقول "خالدٌ أحب لي من سعيد"، إذا كان هو المُحبَّ وأنت المحبوب. فإذا أردت العكسَ قلت "خالدٌ أحبُّ إليَّ من سعيد"، كما قال تعالى { ربِّ السجنُ أحبُّ إليَّ } وقد سبقَ هذا في "إلى".
5- التّعليلُ والسببيَّةُ، كقوله تعالى { إنَّا أنزلنا إليكَ الكتابَ بالحقِّ لتحكُمَ بينَ الناسِ بما أراكَ الله }، ومنهُ اللامُ الثانيةُ في قولكَ "يالَلنَّاسِ لِلمظلوم!".
6- التوكيدُ - وهي الزائدة في الإعراب لمُجرَّد توكيد الكلام -
كقول الشاعر
*وَمَلَكْتَ ما بَيْنَ الْعِراقِ ويَثْرِبٍ * مُلْكاً أَجارَ لُمسْلِمٍ ومُعاهِدِ *
ونحو "يا بُؤسَ لِلحرب!". ومنهُ لامُ المُستغاث، نحو "يا لَلفضيلة!" ويه لا تَتعلَّق بشيءٍ، لأنَّ زيادتها لمجرَّد التوكيد.
7- التّقويةُ - وهيَ التي يُجاءُ بها زائدةً لتقويةِ عاملٍ ضَعُف بالتأخيرِ، بكونه غيرَ فعلٍ. فالأول كقولهِ تعالى { الذينَ هم لربهم يَرهبُون } وقوله { إن كنتم للرُّؤْيا تَعبُرونَ }. والثاني كقوله سبحانه { مُصَدِّقاً لِما مَعَهمْ } وقولهِ { فعّالٌ لِما يُريدُ }. وهي - معَ كونها زائدةً - مُتعلّقةٌ بالعامل الذي قوَّتهُ، لأنها - مع زيادتها - أفادته التَّقوية، فليست زائدةً مَحضة. وقيل هي كالزائدة المحضة، فلا تتعلَّق بشيء.
8- انتهاءُ الغاية - أي معنى "إلى" - كقوله سبحانه { كلٌّ يجري لأجل مُسمًّى }، أي إليه، وقولهِ { ولو رُدُّوا لعادوا لِما نُهُوا عنه } ، وقولهِ { بأنّ ربكَ أوحى لها }.
9- الاستغاثةُ وتُستعمَلُ مفتوحةً معَ المستغاث ، ومكسورةً معَ المُستغاثِ لهُ ، نحو " يا لَخالِدٍ لِبَكر ! .
10- التعجبُ وتُستعملُ مفتوحةً بعد "يا" في نداءِ المُتعجَّب منه، نحو "يا لَلفرَحِ!"،
ومنهُ قول الشاعر
* فَيا لَكَ مِنْ لَيْلٍ! كأنَّ نُجُومَهُ * بِكُلِّ مُغارِ الْفَتْل شُدَّتْ بِيَذْبُلِ*
وتُستعملُ في غير النداءِ مكسورةٌ، نحو "للهِ دَرُّهُ رجلاً!"، ونحو "للهِ ما يفعلُ الجهلُ بالأممِ!"
11- الصّيرورةُ (وتُسمَّى لامَ العاقبةِ ولامَ المآلِ أيضاً) وهي التي تدلُّ على أنَّ ما بعدَها يكونُ عاقبةً لِمَا قبلها ونتيجةً له، عِلةَّةً في حصوله. وتخالفُ لامَ التَّعليل في أنّ ما قبلها لم يكن لأجل ما بعدها، ومنه قوله تعالى { فالتقطهُ آلُ فِرعونَ ليكونَ لهم عدواً وحَزَناً }، فَهُم لم يلتقطوهُ لذلك، وإنما التقطوهُ فكانتِ العاقبةُ ذلك.
12- الاستعلاءُ - أي معنى "على" - إما حقيقةً كقوله تعالى { يَخِرُّونَ للأذقانِ سُجَّداً }، وإمّا مجازاً كقوله تعالى { إن أسأتُم فَلَها }، أي فعليها إساءتُها، كما قال في آية أخرى { وإن أسأتُم فعليها }.
13- الوقتُ (وتُسمَّى لامَ الوقت ولامَ التاريخ) نحو " هذا الغلامُ لِسنةٍ "، أي مرَّت عليه سَنةٌ. وهي عندَ الإطلاق تدلُّ على الوقت الحاضر، نحو "كتبتُهُ لِغُرَّةِ شهر كذا"، أي عند غُرّتِهِ، أو في غُرَّتهِ. وعندَ القرينة تدلُّ على المُضيِّ أو الاستقبال، فتكونُ بمعنى "قبَلٍ" أو "بَعدٍ"، ومنهُ قولهُ تعالى { أقمِ الصّلاةَ لِدلوكِ الشمس }، أي بعدَ دلُوكها. ومنه حديثُ " صُوموا لِرُؤيتهِ وأفطِروا لِرؤيته "، أي بعد رؤيته.
14- معنى "معَ"، كقول الشاعر
*فَلَمَّا تَفَرَّقْنا كأَنِّي ومالِكاً * - لِطولِ اجتماعٍ - لم نَبِتْ ليْلَةً مَعا*
15- معنى "في"، كقوله تعالى { ويَضَعُ الموازينَ القسطَ ليومِ القِيامة }، أي فيها، وقولهِ { لا يُجلّيها لوقتها إلاّ هُو }، أي في وقتها. ومنه قولهم "مضى لسبيله"، أي في سبيلهِ.
10 و 11- الواوُ والتَّاءُ
والواوُ والتاءُ تكونان للقسم، كقوله تعالى { والفجرِ وليالٍ عَشرٍ }، وقولهِ { تاللهِ لأكيدَنَّ أصنامَكم }. والتاءُ لا تدخُلُ إلّا على لفظ الجلالة. والواوُ تدخلُ على كل مقسم به.

12 و 13- مُذ ومُنْذُ
مُذْ ومُنذُ تكونان حرفيْ جَرّ بمعنى "منْ"، لابتداءِ الغاية، إن كان الزمانُ ماضياً، نحو "ما رأيتكَ مُذْ أو منذُ يومِ الجمعة"، وبمعنى "في"، التي للظرفيّة، إن كان الزمان حاضراً، نحو "ما رأيتهُ مُنذُ يومنا أو شهرِنا" أي فيهما. وحينئذٍ تُفيدان استغراقَ المدَّة، وبمعنى "من وإلى" معاً، إذا كان مجرورهما نكرةً معدودةً لفظاً أو معنى. فالأول نحو "ما رأيتكَ مُذ ثلاثةِ أيام"، أي من بَدئها إلى نهايتها. والثاني نحو "ما رأيتكَ مذ أمدٍ، أو مُنذُ دَهرٍ". فالأمدُ والدهرُ كِلاهما مُتعدِّدٌ معنًى، لأنه يقالْ لكل جزءٍ منها أمدٌ ودهرٌ. لهذا لا يقالُ "ما رأيتُهُ مُنذ يومٍ أو شهرٍ"، بمعنى ما رأيتهُ من بدئهما إلى نهايتهما، لأنهما نكرتانِ غيرَ معدودتينِ، لأنهُ لا يقالُ الجزءِ اليومِ يومٌ، ولا لجزءِ الشهر شهرٌ.
واعلم أَنهُ يشترطُ في مجرورهما أن يكون ماضياً أو حاضراً، كما رأيتَ. ويشترطُ في الفعل قبلَهما أن يكون ماضياً منفيّاً، فلا يقالُ "رأيتهُ منذُ يومِ الخميس"، أَو ماضياً فيه معنى التَّطاوُلِ والامتدادِ، نحو "سِرتُ مُذْ طلوعِ الشمسِ".
تنبيه :
وتكونُ "مُذ ومُنذُ" ظرفينِ منصوبينِ مَحلاً، فَيُرفعُ ما بعدَهما. ويُشترَطُ فيهما أَيضاً ما اشتُرطَ فيهما وهما حرفان. ومُذ أصلُها "منذُ" فَخُفّفت، بدليل رجوعهم إلى ضم الذَّال عند ملاقاتها ساكناً، نحو "انتظرتكَ مذُ الصباح". ومُنذُ أصلُها "من" الجارَّةُ و "إذ" الظرفيّة، فَجُعلتا كلمةً واحدةً. ولذا كسرت مِيمُها - في بعض اللُّغات - باعتبار الأصل.

14- رُبَّ
رُبَّ تكونُ للتّقليلِ وللتّكثير، والقرينةُ هي التي تُعيّنُ المرادَ.
فمن التقليل قولُ الشاعر
*أَلا رُبَّ مَوْلودٍ، وَلَيْسَ لَهُ أَبٌ * وذي وَلَدٍ لَمْ يَلْدَهُ أَبَوانٍ*
يُريدُ بالأول عيسى، وبالثاني آدمَ، عليهما السلامُ.
ومن التكثيرِ حديثُ "يا رُب كاسِيةٍ في الدنيا عاريةٌ يومَ القيامةِ"، وقولُ بعضِ العرب عند انقضاءِ رَمضانَ "يا رُبَّ صائمهِ لن يَصومَهُ ويا رُبَّ قائمهِ لن يَقومهُ".
واعلم أنهُ يُقالُ "رُبَّ ورُبَّةَ ورُبّما ورُبَّتما". والتاءُ زائدة لتأنيث الكلمة، و "ما" زائدةٌ للتوكيد. وهي كافةٌ لها عن العمل.
وقد تُخَفّفُ الباءُ. ومنه قوله تعالى {رُبَما يَودُّ الذين كفروا لو كانوا مُسلمينَ}.
ولا تَجُرُّ "رُبَّ" إلا النكرات، فلا تُباشِرُ المعارفَ. وأمّا قولهُ "يا رُبَّ صائمهِ، ويا رُبَّ قائمهِ" المتقدَّمُ، فإضافة صائم وقائم إلى الضمير لم تُفدهما التعريفَ، لأنَّ إضافةَ الوصف إلى معمولهِ غير محضةٍ، فهي لا تُفيدُ تعريفَ المضاف ولا تخصيصَهُ، لأنها على نيّة الانفصال، ألا ترى أنك تقول "يا رُبَّ صائم فيه، ويا ربَّ قائم فيه".



وقد تُجُرُّ ضميراً مُنكَّراً مُميّزاً بنكرةٍ. ولا يكونُ هذا الضميرُ إلا مُفرداً مُذَكَّراً. أما مُميّزُهُ فيكونُ على حسب مُراد المتكلم مفرداً أو مُثَنَّى أو جمعاً أو مذكراً أو مؤنثاً، تقول "رُبّهُ رجلاً. رُبّهُ رَجلَينِ. رُبّهُ رجالاً. رُبّهُ امرأةً. رُبَّهُ امرأتينِ. رُبّهُ نساءً

15 و 16 و 17- خَلاَ وَعَدا وحَاشا
خَلا وعدا وحاشا تكون أَحرف جرٍّ للاستثناء، إذا لم يتقدَّمهنَّ "ما". وقد سبق الكلام عليهنَّ في درس الاستثناء. فراجعه.

18- كَيْ
كي حرفُ جرَّ للتعليل بمعنى اللام. وإنما تَجُرُّ "ما" الاستفهامية، نحو "كيْمَهْ؟"، نقولُ "كيمَ فعلتَ هذا؟"، كما تقولُ "لمَ فعلته؟". والأكثرُ استعمالُ "لمهْ؟" وتُحذَفُ أَلِفُ "ما" بعدَها كما تُحذَفُ بعدَ كلِّ جارٍّ، نحو "مِمّهْ وعَلامهْ وإلامَهْ". وإذا وقَفُوا ألحقوا بها هاء السكت، كما رأيتَ. وإذا وصلوا حذفوها، لعدم الحاجة إليها في الوصل.
وقد تَجرُّ المصدرَ المؤوّلَ بما المصدرية كقول الشاعر
*إِذا أَنتَ لَم تَنْفَعْ فَضُرَّ، فإنَّما * يُرادُ الْفَتَى كيْما يَضُرُّ وَيَنْفَعُ*
 (فكي حرف جر. وما مصدرية، فما بعدها في تأويل مصدر مجرور بكي. أي يراد الفتى للضر والنفع. ويجوز أن تكون "كي" هنا هي المصدرية الناصبة للمضارع. فما. بعدها. زائدة كافةٌ لها عن العمل).

19- مَتَى




مَتى تكونُ حرفَ جرٍّ - بمعنى "مِنْ" - في لُغةِ "هُذَيلٍ"،
ومنهُ قولهُ
*شَرِبْنَ بِماءٍ البَحْرِ، ثُمَّ تَرَفَّعْتْ * مَتَى لُجَج خُضْرٍ لَهُنَّ نَئيجُ*
20- لعَلَّ
لَعَلَّ تكونُ حرفَ جرٍّ في لغة "عُقَيلٍ" وهي مبنيّةٌ على الفتح أو الكسر،
قال الشاعر
*فَقُلْتُ ادْعُ أُخرَى وارفَعِ الصَّوْتَ جَهْرَةً * لَعَلَّ أَبي المِغْوارِ منْكَ قَريبُ*
وقد يُقال فيها "عَلَّ" بحذف لامِها الأولى.
وهي حرفُ جرّ شبيهٌ بالزائد، فلا تتعلَّقُ بشيءٍ. ومجرورها في موضع رفعٍ على أَنه مبتدأ. خبرهُ ما بعدَه.
وهي عندَ غير "عُقَيل" ناصبةٌ للاسم رافعةٌ للخبر، كما تقدَّم.
مَا الزَّائدَةُ بعْدَ الجارِّ
قد تُزادُ "ما" بعدَ "من وعن والباء"، فلا تَكفُّهنَّ عن العمل، كقوله تعالى { مِمّا خَطيئاتهم أُغرِقوا }، وقولهِ { عَمّا قَليلٍ ليُصبحنَّ نادمينَ }، وقولهِ { فَبما رَحمةٍ من الله لِنتَ لَهُم }.
وقد تُزادُ بعدَ "رُبَّ والكافِ" فيبقى ما بعدَهما مجروراً، وذلك قليلٌ،
والغالب على "رُبَّ" المكفوفةِ أَن تدخلَ على فعلٍ ماضٍ، كهذا البيت. وقد تدخلُ على فعلٍ مضارع، بشرط أن يكونَ مُتَحققَ الوقوع، فيُنزّلُ منزلة الماضي للقطع بحصولهِ، كقولهِ تعالى { رُبَما يَودُّ الذينَ كفروا لو كانوا مُسلمينَ }. ونَدَرَ دخولها على الجملة الاسميّة .



- واوُ رُبَّ وفاؤُها
قد تُحذَف "ربَّ"، ويبقى عملُها بعد الواو كثيراً، وبعد الفاء قليلاً،
كقول الشاعر
*وَلَيْلٍ كَمَوْجِ الْبَحْرِ، أَرْخى سُدُولَهُ * عَلَيَّ. بِأَنْواعِ الهُمومِ، لِيَبتَلي*
وقولهِ
*فَمِثْلِكِ حُبْلى قَدْ طَرَقْتُ وَمُرْضِعٍ * فَألْهيْتُها عَنْ ذي تَمائِمَ مُحْوِلِ*
- حَذْفُ حَرْفِ الجَرِّ قِياساً
يُحذَفُ حرفُ الجَرِّ قِياساً في ستَّة مواضع
1- قبلَ أنْ، كقوله تعالى { وعَجِبوا أن جاءَهم مُنذرٌ منهم }، أي لأنْ جاءهم، وقولهِ { أوَ عَجِبتُمْ أنْ جاءكم ذِكرٌ من ربكم على رجلٍ منكم } .
2- قبلَ أنَّ، كقولهِ تعالى { شهِدَ اللهُ انهُ لا إِله إلا هو }، أي شَهِدَ بأنّهُ.
واعلم أنهُ إنما يجوزُ حذفُ الجارِّ قبلَ "أن وأنَّ"، إن يُؤمَنِ اللَّبسُ بحذفهِ. فإن لم يُؤمَن لم يَجز حذفهُ، فلا يقالُ "رغِبتُ أن أفعلَ"، لإشكالِ المراد بعدَ الحذفِ .
3- قبلَ "كي" الناصبةِ للمضارع ، كقولهِ تعالى { فرَددناهُ إلى أمهِ كي تَقرَّ عينُها }، أي لكي تَقرَّ.
واعلم أن المصدرَ المؤوَّل بعد " أنْ وأنَّ وكيْ " في موضع جرَّ بالحرف المحذوف ، على الأصحَّ. وقال بعض العلماءِ هو في موضعِ النصب بنزعِ الخافض.
4- قبلَ لفظِ الجلالة في القسم، نحو " اللهِ لأخدمنَّ الأمةَ خدمةً صادقةً "، أي والله.
5- قبلَ مُميّز "كم" الاستفهامية، إذا دخل عليها حرفُ الجرِّ، نحو " بكم درهم اشتريتَ هذا الكتابَ ؟" أي بكم من درهم ؟
والفصيحُ نصبُهُ، كما تقدَّم في باب التمييز، نحو "بكم درهماً اشتريته؟".

6- بعدَ كلامٍ مُشتملٍ على حرف جرّ مثله، وذلك في خمس صُوَر
الأولى بعد جوابِ استفهامٍ، تقول "مِمَّنْ أخذتَ الكتاب؟"، فيقالُ لك "خالدٍ"، أي من خالد.
الثانية بعد همزةِ الاستفهام، تقولُ "مررتُ بخالدٍ"، فيقالُ "أخالدِ ابنِ سعيدٍ؟" أي أبخالدِ بنِ سعيد؟.
الثالثة بعدَ "إن" الشرطّيةِ، تقولُ "إذهبْ بِمنْ شئتَ، إنْ خليلٍ، وإنْ حسَنٍ" أي إن بخليلٍ، وإن بحسنٍ.
الرابعةُ بعدَ "هَلّاَ"، تقولُ "تصدَّقتُ بدرهمٍ"، فيقالُ "هَلاّ دينار"، أي هلاّ تَصدَّقتَ بدينار.
الخامسة بعد حرف عطفٍ مَتْلُوٍّ بما يصحُّ أن يكونَ جملةً، لو ذُكرَ الحرفُ المحذوفُ، كقولك "لخالدٍ دارٌ، وسعيدٍ بُستانٌ"، أي ولسعيد بستانٌ ، ومنهُ قولهُ تعالى { وفي خَلقكم وما يَبُثُّ من دآبَّةٍ آياتٌ لقومٍ يُوقنونَ واختلافِ الليلِ والنهار وما أنزلَ اللهُ من السماءِ من رزقٍ، فأحيا به الأرضَ بعد موتها، وتصريفِ الرِّياح، آياتٌ لقومٍ يعقلون }.

- حَذْفُ حَرْفِ الجَرِّ سَمَاعاً
قد يُحذَف الجَرِّ سَمَاعاً، فينتصبُ المجرورُ بعدَ حذفهِ تشبيهاً لهُ بالمفعول به. ويُسمى أيضاً المنصوب على نزعِ الخافض، أي الاسمَ الذي نُصبَ بسبب حذفِ حرفِ الجرِّ، كقولهِ تعالى { ألا إنَّ ثمودَ كفروا ربَّهم }، أي بربهم، وقولهِ { واختارَ موسى قومَهُ أربعينَ رجلاً } أي من قومه،
ونَدَرَ بقاءُ الاسمِ مجروراً بعد حذف الجارِّ، في غير مواضع حذفهِ قياساً. ومن ذلك قولُ بعضِ العربِ، وقد سُئلَ "كيف أصبحتَ؟" فقال "خيرٍ، إن شاءَ اللهُ"، أي "على خير"،
وقولُ الشاعر
*إذا قيلَ أَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَبيلَةً * أَشارَتْ كُلَيْبٍ بالأَكُفِّ الأَصابِعُ*
أي إلى كليب. ومثلُ هذا شُذوذٌ لا يُلتفتُ إليه.

-أنواع حَرفِ الجَرِّ
حرفُ الجرَّ على ثلاثة أنواع أصليٍّ و زائدٍ و شبيه بالزائد.
فالأصليُّ ما يحتاجُ إلى مُتعلَّق. وهو لا يُستغنى عنه معنًى ولا إعراباً، نحو "كتبتُ بالقلم".
والزائدُ ما يُستغنى عنه إعراباً، ولا يحتاجُ إلى مُتعلّق. ولا يُستغنى عنه معنًى، لأنهُ إنما جيءَ به لتوكيد مضمونِ الكلام، نحو "ما جاءَنا من أحدٍ" ونحو "ليسَ سعيدٌ بمسافرٍ".
والشِّبيهُ بالزائدِ ما لا يُمكن الاستغناءُ عنهُ لفظاً ولا معنى، غيرَ أنهُ لا يحتاجُ إلى مُتعلّق.
وهو خمسةُ أحرفٍ "". رُبَّ وخَلاَ وعدا وحاشا ولَعَلَّ
(وسمي شبيهاً بالزائد لأنّه لا يحتاج إلى متعلّق ، وهو أيضاً شبيهٌ بالأصلي من حيث أنّه لا يستغنى عنه لفظاً ولا معنى. والقول بالزائد هو من باب الاكتفاء ، على حد قوله تعالى { سرابيل تقيكم الحرّ }، أي وتقيكم البرد أيضاً ).
- مَواضِعُ حروف الجر الزائدة :
لا يُزادُ من حروفِ الجرّ إلا " من والباءُ والكافُ واللام ".
وزيادتها إنما هي في الإعراب ، وليستْ في المعنى، لأنّها إنّما يُؤتى بها للتَّوكيدِ.
أمّا الكافُ، فزيادتها قليلةٌ جداً. وقد سُمعت زيادتها في خبر "ليس"، كقوله تعالى { ليسَ كمثلهِ شيءٌ }، أي "ليس مثلَه شيءٌ"، وفي المبتدأ، كقول الراجل "لَواحِق الأقرابِ فيها كالمَقَقْ". وزيادتها سماعيّة.
وأمّا اللامُ فتُزادُ سماعاً بينَ الفعل ومفعوله. وزيادتها في ذلك رديئةٌ.
قال الشاعر
*وَمَلَكْتَ ما بَيْنَ الْعِراقِ ويَثْرِبٍ * مُلْكاً أَجارَ لِمُسْلِمٍ وَمُعاهِدِ*
أي أجار مسلماً ومعاهداً.
وتُزادُ قياساً في مفعولٍ تأخَّرَ عنه فِعلُهُ تقويةً للفعل المتأخر لضَعفهِ بالتأخُّر، كقولهِ تعالى { الذينَ هم لربهم يَرهبون }، أي ربهم يَرهبون، وفي مفعول المشتقِّ من الفعل تقويةً لهُ أيضاً، لأنَّ عملَهُ فَرعٌ عن عملِ فعلهِ المشتقَّ هو منه، كقوله تعالى { مُصَدِّقاً لِما مَعَهم }، أي مصدقاً لما معهم،
وأمّا "مِن" فلا تُزادُ إلّا في الفاعل والمفعول به والمبتدأ، بشرط أن تُسبَقَ بنفيٍ أو نهي أو استفهامٍ بهَلْ، وأن يكون مجرروها نكرةً. وزيادتها فيهنَّ قياسيّةٌ. ولم يشترط الأخفش تَقدُّمَ نفي أو شبههِ، وجعل من ذلك قولهُ تعالى { ويكفّر عنكم من سيئاتكم }، وقولهُ { فَكلُوا مِمّا أمسكنَ عليكم }. و "من" في هاتين الآيتين تحتملُ معنى التبعيض أيضاً.
فزيادتها في الفاعل، كقوله تعالى { ما جاءَنا من بشير }.
وزيادتها في المفعول، كقوله { تَحِسُّ منهم من أحد }.
وزيادتها في المبتدأ، كقوله { هل من خالقٍ غيرُ اللهِ يَرزُقُكم! }.
وأمّا الباءُ فهي أكثر أخواتها زيادةً ، وهي تزادُ في الإثباتِ والنفي .
وتزاد الباء في خمسةِ مواضعَ
1- في فاعل "كفى"، كقوله تعالى { وكفى بالله وليّاً، وكفى بالله نصيراً }.
2- في المفعول به، سماعاً نحو "أخذتُ بزمامِ الفَرَس"، ومنه قولهُ تعالى { ولا تُلقوا بأيديكم إلى التّهلُكةِ }، وقولهُ { وهُزِّي إليكِ بِجِذعِ النَّخلة }، وقوله { ومَنْ يُرِدْ فيه بإِلحادٍ }، وقولُهُ { فَطفِقَ مَسحاً بالسُّوقِ والأعناقِ }.
ومنهُ زيادتُها في مفعولِ "كفى" المُتعدَّيةِ إلى واحدٍ، كحديثِ "كفى بالمرءِ إثماً أن يُحدِّثَ بكلِّ ما سَمِعَ".
وتُزادُ في مفعولِ "عَرَف وعَلِمَ - التي بمعناها - ودَرَى وجَهِلَ وسَمِعَ وأحسَّ".
ومعنى زيادتها في المفعول به سَماعاً أنها لا تُزادُ إلا في مفعول الأفعال التي سُمعت زيادتها في مفاعيلها، فلا يُقاسُ عليها غيرها من الأفعال. وأمّا ما وَرَد، فلك أن تَزيدَ الباءَ في مفعوله في كل تركيب.
3- في المبتدأ ، إذا كان لفظَ " حَسْب " نحو " بِحَسبِكَ درهمٌ "، أو كان بعدَ لفظِ " ناهيكَ "، نحو "ناهيكَ بخالدٍ شجاعاً "، أو كان بعدَ "إذا الفُجائيّةِ، نحو "خرجتُ فإذا بالأستاذِ"، أو بعدَ "كيفَ"، نحو "كيفَ بِكَ، أو بخليل، إذا كان كذا وكذا؟"
4- في الحال المنفيّ عاملَها. وزيادتها فيها سَماعيّةٌ،
كقولِ الشاعر
*فَما رَجعَتْ بِخائِبَةٍ رِكابٌ * حَكيمُ بْنُ المسيِّبِ مُنْتَهاها*
وجعلَ بعضهُم زيادَتها فيها مَقيسةً، والذوقُ العربيُّ لا يأبى زيادَتها فيها.
5- في خبر " ليسَ وما " كثيراً، وزيادتها هنا قياسيّةٌ. فالأولُ كقوله تعالى { أَليسَ اللهُ بِكافٍ عبدَه }، وقولهِ { أَليسَ اللهُ بأحكمِ الحاكمين }. والثاني كقوله سبحانهُ { وما رَبُّكَ بِظلاّمٍ للعبيد }، وقولهِ { وما اللهُ بغافلٍ عمّا تعملونَ }.
- محَلُّ الْمَجُرورِ مِنَ الإِعرابِ :
حكمُ المجرور بحرف جرّ زائدٍ أَنهُ مرفوعُ المحلِّ أَو منصوبهُ، حَسبَ ما يَطلبهُ العاملُ قبلهُ.
(فيكون مرفوع الموضع على أنه فاعل في نحو "ما جاءنا من أحد". والأصل ما جاءنا أحدٌ. وعلى أنه نائب فاعل في نحو "ما قيل من شيء". والأصل ما قيل شيءٌ. وعلى أنه مبتدأ في نحو "بحسبك الله"؛ والأصل حسبُك الله. ويكون منصوب الموضع على أنه مفعول به في نحو "ما رأيت من أحد"، والأصل ما سعى سعياً يُحمد عليه. وعلى أنه خَبر "ليس" في نحو {أليس الله بأحكم الحاكمين}. والأصل أليس الله أحكم الحاكمين).
أمَّا المجرورُ بحرفِ جرٍّ شبيهٍ بالزائد، فإن كان الجارُّ " خَلا وعَدا وحاشا "، فهو منصوب محلاً على الاستثناءِ.
وإن كان الجارُّ "ربَّ" فهوَ مرفوعٌ محلاً على الابتداءِ، نحو " رُبَّ غَنيٍّ اليومَ فقيرٌ غداً .
وأمّا المجرورُ بحرفِ جَرّ أصليّ فهو مرفوعٌ محلاًّ، إن ناب عن الفاعل بعد حذفهِ، نحو "يؤخذُ بِيَدِ العاثرِ. جيءَ بالمُجرم الفارِّ" أو كان في موضع خبرِ المبتدأ، أو خبرِ "إنَّ" أو إحدى أخواتها، أَو خبر "لا" النافية للجنسِ، نحو "العلمُ كالنور. إن الفَلاَحَ في العمل الصالحِ لا حَسَبَ كحُسنِ الخُلُقِ".
وهو منصوب محلاًّ على أَنهُ مفعولٌ فيه، إن كان ظرفاً، نحو "جلستُ في الدار. سرتُ في الليل". وعلى أنه مفعولٌ لأجله غيرُ صريحٍ، إن كان الجارّ حرفاً يُفيد التّعليلَ والسببيّة، نحو "سافرتُ للعلم، ونَصِبتُ من أَجلهِ، واغتربتُ فيه". وعلى أنه مفعولُ مُطلَق، إن ناب عن المصدر، نحو "جرى الفرسُ كالرِّيح". وعلى أنه خبرٌ للفعل الناقص، إن كان في موضع خبرهِ. نحو "كنت في دِمَشقَ".
وإن وقعَ تابعاً لِمَا قبلهُ كان محلُّهُ من الإعراب على حسَب متبوعهِ، نحو "هذا عالمٌ من أَهل مِصرَ. رأَيتُ عالماً من أَهل مَصر. أَخذتُ عن عالمٍ من أَهل مَصر".
فإن لم يكن، أي المجرور، شيئاً ممّا تقدَّمَ كان في محلِّ نصبٍ على أنهُ مفعولٌ به غيرُ صريحٍ، نحو "مررتُ بالقومِ، وَقفتُ على المِنبر. سافرتُ من بيروت إلى دِمشقَ".
.................
إلى درس آخرَ إن شاء الله تعالى
.................

المصدر: منتديات أهل السنة في العراق - من قسم: منتدى اللغة العربية والبلاغة


BAHAN KHUTBAH - BAHAYA TALAK

Kata Thalak adalah sebuah kata yang dapat menghancurkan keluarga, oleh karena itu Alloh membencinya, meskipun talak itu halal Kata talak t...