Kamis, 05 Desember 2013

Pesona Sastra Kisah-Kisah Al-Quran (3)

Toshihiko Izutsu adalah penerjemah pertama Al-Quran ke dalam bahasa Jepang. Islamolog asal Jepang ini lahir pada 1914 dan meninggal dunia pada 1993. Selama masa hidupnya, ia banyak menulis puluhan buku dan makalah untuk memperkenalkan budaya dan peradaban Islam dan Iran kepada dunia. Studi keislaman Izutsu terfokus pada tiga ranah utama, yaitu filsafat, irfan atau tasawuf dan Al-Quran. Buku Ethico-Religious Concepts in the Quran (1966) dan God and Man in the Koran (1980).
Izutsu berkeyakinan, seluruh bagian Al-Quran, terutama pada bagian yang mengandung cerita selalu menghasilkan pelajaran etika dan moral yang penting. Studi Al-Quran islamolog asal Jepang ini berupaya menemukan konstruk hubungan antara Tuhan, manusia, dan konsepsi moral. Karena itu, cerita dan rangkaian kalimat Al-Quran memiliki peran signifikan dalam masalah ini.
Di mata Izutsu, estetika yang terpatri dalam Al-Quran merupakan suatu keniscayaan yang tidak hanya terungkap lewat bangunan cerita Al-Quran. Tapi juga pada aplikasi kosakata dan kalimat Al-Quran. Ia meyakini, kalimat-kalimat Al-Quran seperti untaian butiran tasbih yang berupaya menyampaikan suatu konsep dan makna tertentu. Hubungan maknawi itu terungkap lebih jelas dalam kisah-kisah Al-Quran ketimbang tema-tema Al-Quran lainnya. Tidak hanya itu saja, kisah-kisah Al-Quran itu juga menampakkan betapa piawai dan indahnya Al-Quran dalam bertutur.
Allah swt dalam surat Yusuf ayat 3 menuturkan kisah yang sangat mengagumkan. Ia berfirman, "Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui".
Dalam seri ketiga kali ini, kami akan kaji beberapa unsur cerita dalam kisah terindah Al-Quran, yaitu kisah Nabi Yusuf. Surat Yusuf memiliki 111 ayat. Tiga ayat pertama dan 10 ayat terakhirnya bukan merupakan ayat-ayat yang mengandung penceritaan. Kisah Nabi Yusuf merupakan cerita yang sangat penting di mata Al-Quran karena di dalamnya banyak mengandung beragam peristiwa yang menarik dan pelajaran penting. Daya tarik utama kisah Nabi Yusuf ini terletak pada perjalanan kisah asmara antara Nabi Yusuf dan Zulaikha. Selain itu, naluri dengki yang tergambar di sela-sela kisah Nabi Yusuf merupakan juga unsur utama cerita yang memainkan peranan penting. Sebab, kisah Nabi Yusuf dimulai dari rasa dengki dan iri saudara-saudara Nabi Yusuf.
Kisah Nabi Yusuf di dalam Al-Quran berangkat dari sebuah mimpi. Yusuf menceritakan mimpi yang ia lihat kepada ayahnya. Dalam mimpinya itu, Yusuf melihat matahari, bulan dan sebelas bintang bersujud kepadanya. Ayahnya berpesan pada Yusuf supaya tidak menceritakan mimpi itu pada saudara-saudaranya. Sebab, mungkin saja setan akan memanfaatkannya.
Mimpi dalam dunia cerita merupakan unsur penting yang cukup berpengaruh dan banyak digunakan dalam teknik bercerita. Mimpi dianggap sebagai hal yang memiliki daya tarik tersendiri karena merupakan salah satu aktifitas alam bawah sadar manusia. Mimpi bukan hanya menjadi sumber tema bagi para penulis cerita. Para psikolog modern pun, juga banyak memberikan perhatian terhadap masalah tafsir dan analisa mimpi.
Salah satu fragmen kisah Nabi Yusuf juga bertumpu dari mimpi. Dan peristiwa demi peristiwa pun berjalan hingga mimpi Nabi Yusuf pun menjadi kenyataan. Beberapa mimpi sejumlah tokoh dalam kisah Nabi Yusuf ini bahkan diceritakan Al-Quran dengan panjang lebar. Mimpi-mimpi itu seakan hendak mengejar suatu dimensi artistik dalam bercerita yang menjadikan realisasi impian manusia sebagai untaian mata rantai cerita.
Cerita lantas dilanjutkan dengan peristiwa dimasukkannya Yusuf ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Lantas Yusuf pun diselamatkan oleh sebuah karavan dan ia pun di bawa ke Mesir untuk dijual sebagai budak. Cerita lantas berlanjut dengan kisah Zulaikha, istri penguasa Mesir yang jatuh cinta kepada Yusuf dan berniat selingkuh. Namun, Yusuf pun akhirnya dijebloskan ke penjara lantaran menolak keinginan Zulaikha. Saat di penjara, Yusuf berhasil menafsirkan mimpi dua orang tahanan menjadi kenyataan. Yusuf bahkan mampu menafsirkan mimpi Raja Mesir dengan benar, sehingga ia pun lantas dibebaskan dari penjara. Putra kesayangan Nabi Yakub itu pun lantas diangkat sebagai perdana menteri Mesir. Ia pun memaafkan kesalahan saudara-saudaranya dan mengundang kedua orang tuanya untuk datang ke Mesir. Kisah mengagumkan ini akhirnya ditutup dengan pesan moral supaya kita semua menjadikan kisah Nabi Yusuf dan umat-umat terdahulu sebagai ibrah atau bahan pelajaran.
Dari sisi struktur, kisah Nabi Yusuf dibangun dengan arsitektur yang begitu indah dan menawan. Rangkaian peristiwa yang terkandung pun tertata begitu apik dan saling bertautan. Terkadang kejadian yang ada dikisahkan secara berurutan dan terkadang saling terpisah lantas tersambung kembali dalam satu muara.
Secara umum, setiap cerita berputar pada sebuah tema atau satu pesan utama pemikiran. Untuk memaparkan tema utama cerita itu juga diperlukan anasir lainnya. Sedangkan dalam kisah Nabi Yusuf, pesan utamanya adalah penegasan bahwa Allah swt tidak akan pernah membiarkan sendirian hamba-hambanya yang beriman di sepanjang hidupnya. Allah swt akan senantiasa memandu dan membantu mereka dalam setiap kesulitan. Yusuf dalam kisah ini menjadi pahlawan lantaran telah berhasil meraih kesempurnaan manusia. Selama masa perjalanan hidupnya, Nabi Yusuf senantiasa memilih nilai-nilai luhur ketimbang kenikmatan sesaat. Sikap mulia itulah yang membuat kisah Nabi Yusuf menjadi begitu menarik dan memikat.
Selain menyampaikan pesan utama cerita, kisah Nabi Yusuf as juga menyinggung masalah lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti, permusuhan nyata antara setan dan manusia, akibat pahit yang menimpa para penipu oleh ulahnya sendiri, perhatian Allah yang selalu menjaga hamba-hambanya, tidak putus asa terhadap Allah swt dan kegagalan para penzalim.
Dalam cerita biasanya pemikiran dan perilaku tokoh utama bertentangan dengan tokoh lain. Kisah Nabi Yusuf ini memiliki setidaknya tiga konflik utama, yaitu: konflik antar sesama manusia, manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan dorongan hawa nafsunya.
Salah satu konflik paling menarik dalam kisah Nabi Yusuf adalah pertentangan antara Yusuf dan Zulaikha. Istri penguasa Mesir itu menggoda Yusuf untuk berselingkuh, namun godaan itu ditolaknya. Konflik itu lantas meluas hingga memunculkan rangkaian peristiwa lain yang membuat kisah menjadi kian memikat.
Penceritaan karakter tokoh dalam cerita juga memiliki peranan penting dalam menciptakan cerita yang memukau. Upaya itu dapat dilakukan lewat dialog ataupun penceritaan perilaku tokoh. Nabi Yusuf merupakan tokoh utama dan seluruh peristiwa senantiasa berpusat padanya. Ia digambarkan sebagai seorang yang beriman, teguh dalam pendirian, bijak, tidak mudah tergoda oleh rayuan setan dan seluruh upayanya selalu ditujukan untuk meraih ridho ilahi serta selalu merealisasikan kemampuannya dengan seindah dan semampu mungkin.
Dalam kisah Nabi Yusuf ini, ada tiga jenis tokoh. Pertama, mereka yang sejalan dengan pemikiran Nabi Yusuf, seperti ayahnya dan saudaranya, Benyamin. Kedua, orang-orang yang menentang Nabi Yusuf, seperti saudara-saudara Nabi Yusuf dan Zulaikha. Dan ketiga adalah para tokoh pembantu seperti para tahanan dan perempuan Mesir.
Unsur dialog juga memiliki peran mendasar dalam menyuguhkan cerita yang menarik. Terkadang dialog itu ditampilkan secara eksternal seperti percakapan antara para tokoh ataupun dialog internal seperti ilham ilahi yang terbersit ke dalam hati Nabi Yusuf dan tergambar dalam doa-doa Nabi Yusuf kepada Allah swt.
Dari sisi alur cerita, kisah Nabi Yusuf berjalan secara progresif. Dengan artian bahwa, titik awal, pertengahan dan akhir cerita tergambar jelas. Kisah Nabi Yusuf ini lantas berakhir dengan pesan Allah swt dalam surat Yusuf ayat 109, yang artinya: "Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul) dan Sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya?" (IRIB)

Pesona Sastra Kisah-Kisah Al-Quran (2)

Sebagaimana yang telah kami tegaskan dalam pembahasan sebelumnya, Al-Quran bukan buku cerita tapi merupakan kitab suci yang menjadi pedoman hidup. Karena itu, apa yang terkandung di dalam Al-Quran merupakan sehimpun ajaran yang membimbing manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran menggunakan pelbagai metode dalam mengungkapkan ajarannnya. Format cerita merupakan salah satu metode yang digunakan. Dalam beragam ayatnya, Al-Quran menyebutkan alasan penukilan kisah hidup para nabi. Sebagai misal, dalam ayat 120 surat Hud dinyatakan, "Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman".
Berdasarkan ayat tadi, salah satu alasan diceritakannya kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu supaya hal itu dijadikan ibrah atau pelajaran. Sebagaimana yang juga ditegaskan dalam surat Yusuf, ayat 111 yang menyatakan bahwa kisah-kisah anbiya merupakan bahan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Sejatinya pengungkapan kisah umat-umat terdahulu dalam Al-Quran merupakan sebentuk peringatan bagi sekalian manusia. Dengan mempelajari kisah mereka, umat manusia diharapkan bisa mengambil pelajaran dari beragam faktor yang membuat umat terdahulu menjadi gagal ataupun berhasil serta jangan sampai mengulang kembali pengalaman pahit mereka.
Mufasir Al-Quran dan ulama besar asal Mesir, Sayid Qutub menemukan suatu metode penelitian sastra Al-Quran. Ia juga memiliki banyak karya penting di bidang struktur sastrawi Al-Quran. Menurutnya, penciptaan seni merupakan salah satu metode yang diterapkan Al-Quran dengan begitu menakjubkan. Mengenai hal ini, Sayid Qutub menjelaskan, "Al-Quran mengambarkan dan menjelaskan pelbagai peristiwa, kejadian, dan cerita sedemikian rupa sehingga membuat sang pembaca dan pendengarnya seakan-akan merasakan hidup di dalamnya. Kisah-kisah Al-Quran memiliki gerakan dan dinamika khusus. Jika kita tambahkan dialog dalam kisah-kisahnya, maka seluruh anasir imajinatifnya bakal tampak. Sehingga pertunjukan pun dimulai, dan para pembaca ayat-ayat Al-Quran seakan tengah menyaksikan langsung sebuah peristiwa. Sampai-sampai mereka pun terbawa hanyut ke dalam peristiwa itu yang telah terjadi berabad-abad lalu. Inovasi penggambaran dan dinamika cerita dalam ayat-ayat Al-Quran terkadang diungkap sedemikian rupa seakan-akan hal itu pun bakal terjadi di masa mendatang".
Kisah Nabi Sulaiman as dalam surat An-Naml merupakan kisah yang menakjubkan. Kisah ini memuat pelbagai faktor yang membuat setiap pembaca menjadi terpukau dan menikmati alunan ceritanya. Kisah ini juga mengangkat beragam tokoh yang bukan saja terbatas pada manusia. Namun juga mengusung tokoh lain seperti jin dan binatang lantas dikemas sedemikian rupa hingga hubungan antar tokoh pun terceritakan begitu apik.
Kisah Nabi Sulaiman dari sisi peristiwa dan latar cerita mengisahkan kejadian yang sangat langka seperti dialog dengan burung-burung ataupun kejadian biasa semacam ketaatan terhadap penguasa. Meski demikian kisah ini juga menyuguhkan latar cerita yang sangat indah dan memukau. Setiap karakter tokohnya juga dilukiskan begitu jelas hingga mampu mempengaruhi psikologi para pembaca.
Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran ini mengisahkan hubungan Sulaiman dengan semut, burung hud-hud dan juga Ratu Balqis. Format utama kisah ini berbentuk kutipan dan dialog. Setiap penggalan kisahnya bergerak dalam alur maju sementara detail ceritanya terungkap dalam kedalaman hati pembaca.
Kisah itu dimulai dengan cerita bala tentara Nabi Sulaiman yang terdiri atas jin, manusia, dan burung-burung. Fragmen pertama kisah ini dinyatakan dalam surat An-Naml ayat 17-19: "Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Fragmen lainnya mengisahkan tentang kisah seekor burung bernama Hud-hud yang memperkenalkan Nabi Sulaiman tentang seorang raja perempuan bernama Balqis. Kisah ini disebutkan dalam surat An-Naml ayat 20-21: "Dan Dia memeriksa burung-burung lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud[1093], Apakah Dia Termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar Dia datang kepadaku dengan alasan yang terang".
Kisah itu lantas dilanjutkan dalam dua ayat berikutnya, 22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk". (QS. An-Naml: 22-24)
Kisah itu kemudian berlanjut dengan keraguan Nabi Sulaiman as soal cerita Hud-hud. Beliaupun lantas mengirim surat kepada Balqis dan meminta Hud-hud untuk mencari tahu bagaimana reaksi raja perempuan itu.
Balqis pun lantas membacakan surat dari Nabi Sulaiman itu kepada para pembesar di negerinya untuk meminta pandangan mereka. Namun mereka pun menyerahkan putusan akhir kepada Balqis. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memberikan hadiah yang sangat mahal kepada Nabi Sulaiman untuk mengambil hati beliau supaya mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Saba. Nabi Sulaiman pun lantas memperlihatkan kekuatannya dengan begitu menakjubkan hingga Ratu Balqis dan rakyatnya menerima kepemimpinan Nabi Sulaiman dan memeluk agama tauhid.
Guna menelaah lebih jauh kisah Nabi Sulaiman ini, pertama kami akan ungkap anasir sastrawi dua cuplikan kisah tadi. Kedua cerita itu mengusung tokoh-tokoh selain manusia seperti semut dan burung hud-hud. Keduanya berbicara dengan Nabi Sulaiman sebagai tokoh utama. Kisah itu juga menunjukkan kemampuan ajaib Nabi Sulaiman dalam memahami dan berbicara dengan bahasa binatang. Kisah itu juga dimulai dengan gambaran tentang kebesaran bala tentara Nabi Sulaiman yang terdiri dari manusia, jin, dan burung-burung. Di sini, Al-Quran mengisahkan cerita itu dengan rangkaian kata dan penggunaan majas yang begitu apik. Kendati kisah itu disuguhkan dengan gaya cerita dan bertutur yang minimalis namun mampu menciptakan imajinasi yang begitu kaya di benak pembaca.
Cerita-cerita modern juga kerap menggunakan majas atau kiasan untuk memantik daya khayal pembaca semaksimal mungkin. Karena itu, pilihan dan penempatan rangkaian kata harus tertata sedemikian hingga mampu menyuguhkan kisah yang memukau.
Ada banyak peristiwa menarik dalam kisah Nabi Sulaiman as seperti pencarian untuk menemukan hud-hud, kepemimpinan seorang perempuan atas sebuah negeri, cerita mengenai keindahan dan keagungan tahta ratu Balqis, pengakuan hud-hud tentang suatu perkara yang hingga kini belum diketahui Nabi Sulaiman, peristiwa kedatangan ratu Balqis ke istana Nabi Sulaiman dan ketakjubannya atas keindahan istana sang utusan ilahi itu.
Kisah Nabi Sulaiman ini juga berhasil mengemas unsur "keterkejutan" sedemikian apiknya dalam alur ceritanya. Sebagaimana tampak pada saat Balqis melihat tahta kerajaannya telah dipindahkan ke istana Nabi Sulaiman dan kekagumannya terhadap keindahan dan keajaiban istana nabi. Di sisi lain, kisah ini juga mampu memainkan unsur "penantian" dengan sangat cerdas sehingga pembaca terus merasa tertarik untuk mengetahui kelanjutan cerita. Selain itu, kendati kisah ini memiliki format cerita yang sangat memukau namun kisah tersebut juga mengandung pelajaran yang sangat luhur dan menyampaikannya kepada pembaca secara tidak langsung. (IRIB)

Jumat, 12 Juli 2013

10 أفكار لإسعاد والديك

10 أفكار لإسعاد والديك
د. جاسم المطوع

بسم الله الرحمن الرحيم

ونحن صغار كنا كثيرا ما ننتقد الوالدين في تصرفاتهما فلما كبرنا اكتشفنا أن ما قاما به هو الصواب. ومن طرائف ما ذكرته لي والدتي أنها لما كانت صغيرة كانت تتضايق من والدتها في بعض التصرفات فكانت والدتي ترد عليها وتقول سأريك ماذا أفعل إذا صرت أما مثلك ثم تضيف أنها لما كبرت وصارت أما فعلت ما كانت تفعله والدتها. فبر الوالدين قيمة عظيمة وعلينا أن نربي أبناءنا منذ نعومة أظفارهم على البر ولهذا ذكرها النبي عيسى عليه السلام وهو بالمهد عندما قال (وبرا بوالدتي ولم يجعلني جبارا شقيا). وقد جمعت عشر أفكار جميلة وعملية تساعدنا في إضافة البهجة وإسعاد والدينا وهي:
 

1 ـ الذكريات :
 أن نتحدث معهما عما كان يضايقنا منهما عندما كنا صغارا ثم نبين لهما أن قرارهما كان صائبا فيسعدان بما ذكرناه لهما. 

2 ـ المشاعر :
 فلو قدما لك عطية فاحرص على أن تعبر عن مشاعر الفرح واستغل الفرصة وبين لهما مدى حاجتك لهذه العطية واستفادتك منها. 

3 ـ الهدية :
 أن تشتري لهما هدية فهي تعبر عن حبك لهما وليس بالضرورة أن تكون غالية وكررها بين فترة وأخرى ولا يحزنك ان قدما هذه الهدية للآخرين فهذه من محبتهما لك. 

4 ـ الحديث :
 أن تتحدث معهما وتزور والديهما أو إخوانهما إن كانوا أحياء وتنقل لهما ما حصل لك معهما لإسعادهما. 

5 ـ المشاورة :
 شاورهما في قراراتك الكبيرة مثل شراء بيت أو سيارة أو سفر وكذلك الصغيرة مثل شراء ثوب أو تحضير وجبة أو شراء هدية لصديق فالمشاورة تشعرهما بأهميتهما. 

6 ـ الدعابة :
 ذكر القصص التي حدثت لك معهما في الطفولة أو مع إخوانك وفيها دعابة ونكتة وطرافة أو أي موقف طريف تذكره لهما. 

7 ـ التكنولوجيا :
 اكتب تغريدة على التويتر من كلامهما أو انشر صورة لوجبة طبختها والدتك أو زرع زرعه والدك واقرأ عليهما تعليقات وتفاعل أصدقائك فإنهما سيسعدان كثيرا بتفاعل الناس معهما. 

8 ـ زيارة واستضافة
 : خصص وقتا لزيارتهما والجلوس معهما أو ادعهما الى غداء أو سفرة وتحمل تكاليف الرحلة فيكونان سعيدين بما تقدمه لهما. 

9 ـ الحنان :
 كن حنونا معهما خاصة اذا كانا كبيرين في السن، واذا تصرفت تصرفا أغضبهما فعجل في طلب رضاهما. 

10 ـ الأصدقاء:
 عرفهما بأصدقائك أو ادع أصدقاءك للجلوس معهما فإن ذلك يسعدهما. 

فهذه الافكار العشر نقدمها هدية للقراء حتى يعملوا بها وتزداد البهجة والمحبة في بيوتهم، ولعل من رحمة الله تعالى أن جعل نبينا الكريم صلى الله عليه وسلم يتيما وإلا لو كان والداه على قيد الحياة لبرهما برا ربما يصعب على المسلمين العمل به ولهذا فإن مفاهيم البر وردت إلينا في السنة النبوية قولية وليست فعلية حتى ان كل واحد منا يجتهد قدر استطاعته والكل مأجور على ما يعمل من أفكار تضيف البهجة لوالديه.
 

هذا في حال كونهما موجودين معك، أما في حال وفاتهما فيمكنك إضافة البهجة إليهما وإسعادهما وهما في قبريهما كأن تتصدق أو تدعو لهما أو تبر أصدقاءهما أو تعمل لهما عملا خيريا أو وقفا باسميهما أو تزورهما.
 

فالبر قيمة مستمرة أجرها كبير وأثرها عظيم وأذكر في هذه المناسبة أن رجلا أخذ أمه للعلاج بأميركا ورافقته زوجته لتساعده في رعاية والدته، فلما انتهت العملية الجراحية كثرت الاتصالات الهاتفية للاطمئنان عليها وكانت معهم ممرضة تراقب ما يحدث من خدمة ورعاية وكثرة اتصالات دولية فسألت الابن ما منصب هذه المرأة في بلدكم هل هي وزيرة أم أميرة؟ فرد عليها ابنها: كلا وإنما هي «ربة بيت» فقالت مستغربة ولكن اهتمامكم بها غريب واهتمام الناس بها كثير لافت للنظر فقال لها: هكذا الأم تقدر عندنا وهذا نسميه في ديننا «بر الوالدين» فكان ذلك سببا في دخول الممرضة للإسلام من بوابة «بر الوالدين».
 

ولأن البر مهم فقد ذكره الله بعد عبادته قائلا (وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا) ولهذا لما سئل الحسن رضي الله عنه فيمن يصوم التطوع وسأله أبواه أن يفطر، وأجاب بأنه يفطر وله أجران أجر البر وأجر الصيام، فهذه هي قيمة البر ولذلك كتبنا 10 أفكار نسعد بها الوالدين، فلنبادر بعملها من الآن و«بروا آباءكم تبركم أبناؤكم».
 

Senin, 22 Oktober 2012

khutbah Idul Adha di masjid mbah soleh darat


اللهُ أكْبَرُ × 9
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarganya; Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil pelajaran dan keteladanan darinya, Allah swt berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al Mumtahanah [60]:4).
Dalam kehidupan Nabi Ibrahim as, paling tidak ada tiga hal yang harus kita teladani
Pertama adalah komitmen yang begitu kuat kepada Allah swt yang kemudian melahirkan ketaatan.
kisah tentang ketaatan Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as, dalam menjalankan perintah Allah Swt. Adalah kisah tentang puncak ketaatan . yaitu Ketika Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih putranya, keduanya segera bergegas melaksanakan perintah Allah. Tak tampak sama sekali keraguan, apalagi keengganan atau penolakan. Keduanya dengan ikhlas menunaikan perintah Allah Swt, meski harus mengurbankan sesuatu yang paling dicintainya. Ibrahim rela kehilangan putranya, dan Ismail tak keberatan kehilangan nyawanya. Peristiwa agung ini pun diabadikan dalam al-Quran agar menjadi teladan bagi manusia di sepanjang masa. Allah Swt berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (TQS. al-Shaffat [37]: 102).
Pengorbanan yang luar biasa itu pun membuahkan hasil. Tatkala ketaatan mereka telah terbukti, perintah penyembelihan itu pun dibatalkan. Sebagai gantinya, Allah Swt menebusnya dengan sembelihan hewan. Karena mereka telah lulus dari al-balâ’ al-mubîn (ujian yang nyata), mereka pun mendapatkan balasan yang besar. Allah Swt berfirman:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ، وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ، إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ، وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (TQS. Shaffat [37]: 103-107).

Allâhu Akbar 3X, WaliLlâhilhamd
Ma’âsyira al-Muslimîn Rahimakumullâh,

Kisah ini menggambarkan komitmen yang begitu kuat kepada Allah swt yang kemudian melahirkan ketaatan. Ketundukan, pengorbanan, dan keberhasilan mereka, yang seharusnya menjadi teladan bagi kita.
Sebagaimana Nabi Ibrahim as, kita pun menerima berbagai kewajiban yang harus dikerjakan. Bagi kita, kewajiban itu juga merupakan al-balâ’ al-mubîn (ujian yang nyata). Siapa pun yang bersedia tunduk dan patuh menjalankan kewajiban itu, maka mereka adalah orang-orang yang selamat dan sukses. Sebaliknya, mereka yang membangkang darinya adalah orang-orang yang gagal dan celaka.
Di antara kewajiban itu adalah menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan. Allah Swt berfirman:
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu (TQS. al-Maidah [5]: 49).
Seruan ini, bertebaran dalam banyak ayat dan Hadits. Kewajiban tersebut kian tegas dengan adanya larangan bagi setiap Mukmin untuk mengambil dan menerapkan hukum lain yang tidak berasal dari-Nya. Jika tetap bersikukuh menjalankan hukum selaih syariah, maka bisa terkatagori di antara salah satu kemungkinan: kafir, dzalim, atau fasik (QS al-Maidah [5]: 44, 45, dan 47).

Syariah yang diwajibkan atas kita itu bersifat total dan menyeluruh, baik menyangkut hubungan manusia dengan Sang Pencipta yang berupa hukum-hukum ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang tercakup dalam hukum-hukum makanan, pakaian, dan akhlak; maupun hubungan antar sesama manusia yakni hukum-hukum mu’amalat yang meliputi sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem pergaulan, strategi pendidikan, dan politik luar negeri; danuqubat yang memberikan  ketentuan mengenai sanksi-sanksi terhadap setiap pelaku kriminal.
Keseluruhan syariah itu wajib kita terapkan. Tidak boleh ada yang diabaikan, ditelantarkan, apalagi didustakan. Tindakan mengimani sebagian syariah dan mengingkari sebagian lainnya hanya. akan mengantarkan kepada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Allah Swt berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.(TQS. al-Baqarah [2]: 85).

Ketundukan kepada Allah Swt dan ketaatan menjalankan perintah-Nya memang membutuhkan pengorbanan, baik waktu, tenaga, harta, bahkan jiwa. Akan tetapi kita tidak perlu khawatir. Pengorbanan itu pasti akan membuahkan hasil. Allah Swt akan memberikan pertolongan-Nya jika kita bersungguh-sungguh menolong agama-Nya. Allah Swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (TQS. Muhammad [47]: 7).
Jika demikian janji-Nya, maka tak pantas lagi kita merasa ragu atau takut. Sebab, pertolongan sesunguhnya hanya di tangan Allah Swt. Maka siapa saja yang ditolong Allah Swt, tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkannya. Sebaliknya, jika Allah Swt menghinakannya, tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Allah Swt berfirman:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (TQS. Ali ‘Imran [3]: 160)

Ketundukan kepada Allah Swt dan ketaatan menjalankan perintah-Nya memang membutuhkan pengorbanan, baik waktu, tenaga, harta, bahkan jiwa. Akan tetapi kita tidak perlu khawatir. Pengorbanan itu pasti akan membuahkan hasil. Allah Swt akan memberikan pertolongan-Nya jika kita bersungguh-sungguh menolong agama-Nya. Allah Swt berfirman:
Komitmen, ketaatan dan ketundukan yang kuat ini ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as sejak masih muda sampai tua, bahkan sampai mati. Ini bisa kita simpulkan dari kisah tentang penghancuran berhala yang dilakukan Ibrahim saat ia masih muda belia dan bandingkan dengan pelaksanaan perintah menyembelih Ismail yang sudah tua. Kenyataan ini menunjukkan banyak orang tidak taat pada perintah-perintah Alloh pada usia muda dan namun baru mau menjalankan perintahnya pada usia tua, ini cukup baik, ada pula yang sejak muda sampai tua tidak mau menjalankan perintahnya, dan yang sangat tragis adalah saat muda ia rajin menjalankan perintah alloh seperti sholat ,  dll, namun saat tua ia justeru meninggalkan semua perintah alloh malah tenggelam dalam kemaksiatan
Kedua, pelajaran yang kita ambil dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah tidak kompromi kepada syaitan dengan segala nilai-nilai kebatilan yang dihembuskan dan diajarkannya. Karena itu godaan syaitan harus dihalau dan tidak dituruti, bahkan syaitan harus kita jadikan sebagai musuh abadi yang selalu diwaspadai setiap saat dan tempat, karena itu dalam ibadah haji ada kewajiban melontar yang melambangkan permusuhan kepada syaitan, Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan$ janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al Bacará [2]:208).

Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi sesulit apapun, hal itu tidak boleh membuat kita menjadikannya sebagai alasan untuk menghalalkan segala cara, sedangkan bagi yang mengalami kesenangan hidup tidak akan sampai lupa diri, susah dihadapi dengan kesabaran dan senang dijalani dengan rasa syukur kepada Allah swt, inilah yang membuat seorang mukmin menjadi pribadi yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ لأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ انْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya (HR. Ahmad dan Muslim).
Pelajaran dari Nabi Ibrahim yang Ketiga adalah kelangsungan penanaman dan penyebaran nilai-nilai Islam. Pada diri Nabi Ibrahim as terdapat kekhawatiran yang sangat dalam bila tidak ada generasi baru yang akan melanjutkan penyebaran nilai-nilai yang datang dari Allah swt.
Oleh karena itu, setiap kita punya keharusan untuk melaksanakan tugas-tugas dakwah, dakwah dalam arti yang luas yakni mengajak, menyeru dan memanggil manusia untuk beriman dan taat kepada Allah swt dengan berbagai cara yang baik. Tugas ini merupakan tugas yang penting dan mulia karena ini adalah tugas para nabi, dan rosul dan tugas yang amat dibutuhkan oleh manusia, siapapun membutuhkan dakwah. orang baik membutuhkan dakwah apalagi orang yang belum baik. Namun untuk melaksanakannya amat dibutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, dana dan segala yang kita miliki. Oleh sebab itu, manakala kita melaksanakan tugas dakwah dan orang yang kita dakwahkan menjadi baik, maka pahala kebaikannya akan kita dapatkan juga, namun jika belum mau menerima ajakan dakwah kita , kitapun tetap mendapat pahala. Dalam kamus perjuangan dakwah. Tidak ada perjuangan yang gagal. Diterima atau tidak ajakan dakwah kita Alloh tetap member pahala.  Rasulullah saw bersabda:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرِ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِفَاعِلِهِ.
Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).
Dalam situasi dan kondisi kehidupan diri, keluarga dan masyarakat kita sekarang, nilai-nilai pelajaran yang begitu banyak dari para Nabi menjadi amat penting untuk kita gali dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga perjalanan hidup kita selalu dalam kebaikan dan kebenaran
جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين وأدخلنا وإياكم في عباده الصالحين وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم


Khutbah Kedua:
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
اَللّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ الْحِساَبِ وَمُحْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ والَصَلِّيْبِيِّيْنَ الظَّالِمِيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَ اْلإِشْتِرَاكَيِّيْنَ وَالشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ وَنَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ تَحْرِيْرَ بِلاَدِ فَلَسْطِيْنِ وَاْلأَقْصَى، وَالْعِرَاقِ، وَالشَّيْشَانَ، وَأَفْغَانِسْتَانَ، وَسَائِرِ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نُفُوْذِ الْكُفَّارِ الْغَاصِبِيْنَ وَالْمُسْتَعْمِرِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَالْغِنَى نَاتِجَةً مِنْ صِيَامِنَا وَ اجْعَلْهُ شَافِعًا لَنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. .
رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
 رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَاللهِ !
 اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ


Minggu, 21 Oktober 2012

Khutbah Idul Adha oleh Syafaat



Kepedulian Orang Tua, Kunci Sukses Mendidik Anak
Khutbah Idul Adha 2012
Oleh Syafaat

الخطبة الأولى:
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا الحمد لله الذي جعل عيد الأضحى ضيافة لعباده الصالحين وجعل في قلوب المسلمين بهجة وسرورا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمد عبده ورسوله اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله فقد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى.

Pada hari ini dan pada pagi ini seluruh umat Islam di seluruh dunia menggemakan kalimat tahlil, tahmid dan takbir guna mengagungkan kebesaran Allah, demikian juga saudara-saudara kita yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah, mereka lantunkan kalimat talbiyah: labbaikallahumma labbaik ……yang juga merupakan ungkapan pengagungan kepada sang khaliq pencipta alam semesta ini. Semua ini dilakukan dalam rangka merayakan Idul Adha. Secara bahasa, Id berarti kembali dan adha berarti pengorbanan, perjuangan. Artinya para hari ini, kita harus kembali pada semangat pengorbanan, gelora perjuangan demi tegaknya agama Allah ini, li I'lai kalimatillah, sebagaimana yang telah diperankan oleh sang fenomenal, nabiyullah Ibrahim, as. Dengan ketegaran hati, beliau menerima titah Allah untuk menyembelih putera tercintanya yang lama ditunggu kehadirannya.
Nama nabi Ibrahim diabadikan dalam al-Quran 61 kali, melampaui nabi kita muhammad yang hanya disebut 4 kali. Demikian juga julukan yang diberikan Allah pada Nabi Ibrahim as bermacam-macam seiring dengan prestasi yang pernah diukirnya di pentas sejarah. Beliau oleh Allah diberi gelar abul anbiya' (bapak para nabi), ulul 'azmi (orang yang sabar dan teguh pendirian), dan khalilur rahman (kekasih Allah yang maha pengasih). Ia dijuluki abul anbiya' lantaran telah melahirkan para nabi dan orang-orang sholeh. Sebagaimana firman Allah: 
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ (الحديد 26)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab.

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ ﴿العنكبوت ٢٧﴾
Dan Kami anugrahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Ya`qub, dan Kami jadikan kenabian dan Al Kitab pada keturunannya.

Tidak banyak orang yang sukses melahirkan orang yang sukses pula. Berbeda dengan Nabi Ibrahim as yang melahirkan dua orang nabi: nabi Ismail dan Ishaq. Dari jalur nabi ismail terlahir nabi kita muhammad saw. Dan dari jalur nabi Ishaq terlahir nabi Ya'qub dan dari nabi Ya'qub ini terlahir semua nabi yang berasal dari bani Israil, sebagaimana yang ditulis Imam Ali As-shabuni dalam kitab annubuwwah wal anbiya'.
Kemudian pertanyaan yang muncul sekarang adalah apa rahasia di balik kesuksesan Nabi Ibrahim as yang melahirkan tokoh-tokoh besar tersebut. Menurut al-Quran, paling tidak ada 3 alasan:

1. Do'a yang selalu dipanjatkan.
Disebutkan dalam al-Quran bahwa dia senantiasa berdoa:
 رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (الصافات 100)
Wahai Tuhanku karuniakanlah aku keturunan yang shalih

Doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as jauh sebelum beliau menikah atau sebelum mempunyai anak, beliau tak henti-hentinya meminta kepada Allah, agar dikaruniai anak yang sholeh. Beliau tidak semata meminta dikaruniai anak, tapi juga memiliki misi agar anaknya kelak menjadi anak yang sholeh, bukan anak yang kaya, cendekiawan dll. Dan beliau tidak pernah putus asa dalam berdoa, dan baru pada usianya yang ke 86 tahun Allah memberikan karunia anak yang luar biasa sebagaimana yang diminta dalam doanya.
Allah menyebutkan ciri anak tersebut dengan:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ (الصفات 101) .
Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

 Menurut tafsir As-suudi dalam kalimat di atas, terdapat tiga kelebihan yang dimiliki sang anak, Ismail, yaitu: 1) seorang laki-laki, 2) akan menjadi dewasa, 3) bijaksana. Ciri-ciri tersebut menambah kegembiran Nabi Ibrahim as karena akan bisa meneruskan risalah kenabiannya.
Bagi saudara-saudara kita yang mungkin saat ini sudah memasuki usia pernikahan, bersegeralah untuk memohon kepada Allah sebagaimana doa di atas. Demikian juga para suami yang istrinya sedang hamil, jangan pernah terputus untuk memohon agar dikaruniai anak sholih, yang doa-doa mereka kelak akan menerangi kubur orang tuanya dan amal-amalnya akan mengangkat derajat orang tuanya ke sorga. Di samping berdoa, juga mereka perlu melakukan sesuatu yang menyenangkan orang tua seperti berbakti, membantu, memberi citra baik, supaya kelak anak kita juga melakukan kebaikan yang menyenangkan dan membanggakan kita sebagai orang tua.
Rasulullah bersabda: بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أبْنَاؤُكُمْ (الطبرانى عن ابن عمر)
Berbaktilah kepada orang tuamu niscaya anakmu akan berbakti kepadamu

2. Kepedulian Nabi Ibrahim as pada pendidikan anak-anaknya
Dalam al-Quran diceritakan:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ (إبراهيم 35)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (البقرة 132)
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (البقرة 133)
Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Ayat di atas membuktikan betapa besarnya perhatian Nabi Ibrahim as pada pendidikan anak-anaknya, dia tidak rela kalau anaknya bodoh atau berada pada jalur pendidikan yang salah. Jangan sampai terjadi, hanya karena alasan ekonomi, atau alasan pekerjaan, kita mengabaikan pendidikan anak kita dan tidak tahu menahu apa yang mereka pelajari, apa yang mereka lakukan selama ini. Sudahkah anak-anak kita mengamalkan ajaran agama secara benar? Sudahkan orang tua memberikan contoh teladan yang baik pada mereka? Kalau belum bersiaplah untuk menerima cobaan Allah melalui anak kita,
Ketahuilah bahwa pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan akhlaq dan agama. Sedangkan pendidikan umum merupakan pendukung dari pendidikan agama tersebut. Terpuruknya bangsa ini bukan karena sumberdaya manusianya yang kurang cerdas, tetapi karena bobroknya moral dan akhlaq. Mereka yang tidak dilandasi akhlak, dengan ilmunya akan melakukan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan mereka dengan kekayaannya akan membolehkan segala cara demi meraih kekuasaan dan kepuasan nafsunya.
Banyaknya kasus kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, narkoba, tawuran dll, terjadi akibat dari kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua terhadap akhlaq mereka. Menurut data Depkes (2004), di Indonesia terdapat 12-19 juta orang rawan untuk terkena HIV dan diperkirakan ada 95.000-130.000 penduduk yang tertular HIV dan separoh dari jumlah tersebut korbannya adalah remaja usia 12-19 tahun. Faktor yang sangat berpengaruh pada penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, dan penggunaan narkoba. Perkiraan pengguna narkoba saat ini adalah 1,3-2 juta orang. Dari jumlah tersebut 30-93% terinfeksi HIV. Juga Indonesia terkenal dengan tawuran pelajarnya. Tahun 2012 ini saja sudah ada 300-an kasus tawuran pelajar yang menewaskan 12 pelajar. Anehnya lokasi tawuran ini masih dekat dengan sekolah tempat mereka belajar.
Fakta ini sungguh ironis, kita semua harus bertanggungjawab terhadap masa depan mereka. Oleh karena itu kita harus berkorban harta demi pendidikan anak-anak kita, kita juga harus berkorban waktu demi mengawasi pergaulan anak-anak kita dan kita juga harus berkorban tenaga demi mengarahkan mereka menuju hal-hal postif yang diridhoi Allah swt.
Yakinlah bahwa pengorbanan kita, tidak akan pernah sia-sia apapun hasilnya. Allah berjanji akan mempertemukan kita kembali dengan anak-anak kita di akherat apabila mereka tetap beriman pada Allah dan menjalankan syariat Islam secara baik. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿الطور ٢١﴾
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

3. Kepedulian Ibrahim pada kesejahteraan anak dan keluarga
Nabi Ibrahim as adalah sosok seorang bapak yang baik, dan suami yang bertanggung jawab. Demi membahagiakan keluarganya, Nabi Ibrahim as rela merantau ribuan kilometer dari Palestina ke Mesir, dan itu dilakukan beberapa kali meskipun kondisi alam yang tandus dan panas. Sebagaimana diungkapkan dalam doa Nabi Ibrahim as: 
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (إبراهيم 37)
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Rasulullah menyatakan bahwa seseorang yang bekerja keras guna mencari rizki yang halal untuk keluarga, dinilai oleh Allah sebagai sadaqah yang tertinggi. Dalam hadis beliau bersabda:
وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ ، أعْظَمُهَا أجْراً الَّذِي أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ . رواه مسلم .
Satu dinar dari harta yang engkau nafkahkan untuk keluargamu merupakan pahala yang paling besar di sisi Allah

Jatuhnya perekonomian dunia saat ini, berdampak pada banyaknya gelombang PHK di mana-mana, sehingga banyak pengangguran. Data kompas menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terbuka sebanyak 11,6 juta orang. Meskipun demikian, sebagai seorang muslim kita tidak boleh berputus asa, dan sebaliknya harus bangkit singsingkan lengan untuk menatap hari esok dengan penuh optimisme dan harapan baru yang lebih baik. Allah berjanji, selama seseorang berusaha secara maksimal di jalan Allah, pastilah ia akan menemukan jalan kesuksesan. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت 69)
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6) فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8)
(5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (6). sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (7) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, (8) dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Syekh 'Aid Abdullah al-Qarany dalam kitabnya "la tahzan" mengatakan: "apabila anda melihat padang pasir yang luas tak bertepi, yakinlah bahwa di balik itu akan ada taman hijau nan indah dan apabila saat ini anda bermandikan air mata yakinlah sebentar lagi akan datang senyum kesuksesan, asalkan kita tetap yakin bahwa Allah akan menolong kita dan terus berusaha tanpa henti".
Semoga Allah memberikan kemampuan pada kita untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim dan juga utusan-utusan Allah yang lain agar hidup kita, kondisi anak kita, keadaan keluarga kita menjadi lebih baik, amin ya robbal alamin.

جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين وأدخلنا وإياكم في عباده الصالحين وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

الخطبة الثانية :
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا الحمد لله الذي جعل هذا اليوم عيدا للمسلمين وجعل في قلوب المسلمين بهجة وسرورا. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمد عبده ورسوله اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أما بعد فيا أيها الناس اتقوا الله فقد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى. اعلموا أن الله أمركم بدأ فيه بنفسه وثنى بملائكته المسبحة بقدسه وقال تعالى إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اللهم صل وسلم على سيدنا وشفيعنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين سيدنا أبي بكر الصديق وعمر وعثمان وعلي وعن كل الصحابة والتابعين وتابعي التابعين ومن تبعهم إلى يوم الدين وعلينا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات ياضي الحاجات برحمتك يا أرحم الراحمين.


BAHAN KHUTBAH - BAHAYA TALAK

Kata Thalak adalah sebuah kata yang dapat menghancurkan keluarga, oleh karena itu Alloh membencinya, meskipun talak itu halal Kata talak t...