GUDANGNYA KITAB-KITAB DIGITAL. KITAB-KITAB SALAFI, SUNNI, SYIAH, DAN NON MADZHAB SERTA BUKU BUKU UMUM SEMUA KAMI KOLEKSI, JUGA FILM2 DAKWAH PENDIDIKAN, DOKUMENTER PENGAJIAN PARA MASYAYIH DALAM DAN LUAR NEGERI .JIKA ANDA BERMINAT MEMILIKI KITAB KITAB DIGITAL SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI HP. NO.

Kamis, 05 Desember 2013

Pesona Sastra Kisah-Kisah Al-Quran (2)

Sebagaimana yang telah kami tegaskan dalam pembahasan sebelumnya, Al-Quran bukan buku cerita tapi merupakan kitab suci yang menjadi pedoman hidup. Karena itu, apa yang terkandung di dalam Al-Quran merupakan sehimpun ajaran yang membimbing manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran menggunakan pelbagai metode dalam mengungkapkan ajarannnya. Format cerita merupakan salah satu metode yang digunakan. Dalam beragam ayatnya, Al-Quran menyebutkan alasan penukilan kisah hidup para nabi. Sebagai misal, dalam ayat 120 surat Hud dinyatakan, "Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman".
Berdasarkan ayat tadi, salah satu alasan diceritakannya kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu supaya hal itu dijadikan ibrah atau pelajaran. Sebagaimana yang juga ditegaskan dalam surat Yusuf, ayat 111 yang menyatakan bahwa kisah-kisah anbiya merupakan bahan pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. Sejatinya pengungkapan kisah umat-umat terdahulu dalam Al-Quran merupakan sebentuk peringatan bagi sekalian manusia. Dengan mempelajari kisah mereka, umat manusia diharapkan bisa mengambil pelajaran dari beragam faktor yang membuat umat terdahulu menjadi gagal ataupun berhasil serta jangan sampai mengulang kembali pengalaman pahit mereka.
Mufasir Al-Quran dan ulama besar asal Mesir, Sayid Qutub menemukan suatu metode penelitian sastra Al-Quran. Ia juga memiliki banyak karya penting di bidang struktur sastrawi Al-Quran. Menurutnya, penciptaan seni merupakan salah satu metode yang diterapkan Al-Quran dengan begitu menakjubkan. Mengenai hal ini, Sayid Qutub menjelaskan, "Al-Quran mengambarkan dan menjelaskan pelbagai peristiwa, kejadian, dan cerita sedemikian rupa sehingga membuat sang pembaca dan pendengarnya seakan-akan merasakan hidup di dalamnya. Kisah-kisah Al-Quran memiliki gerakan dan dinamika khusus. Jika kita tambahkan dialog dalam kisah-kisahnya, maka seluruh anasir imajinatifnya bakal tampak. Sehingga pertunjukan pun dimulai, dan para pembaca ayat-ayat Al-Quran seakan tengah menyaksikan langsung sebuah peristiwa. Sampai-sampai mereka pun terbawa hanyut ke dalam peristiwa itu yang telah terjadi berabad-abad lalu. Inovasi penggambaran dan dinamika cerita dalam ayat-ayat Al-Quran terkadang diungkap sedemikian rupa seakan-akan hal itu pun bakal terjadi di masa mendatang".
Kisah Nabi Sulaiman as dalam surat An-Naml merupakan kisah yang menakjubkan. Kisah ini memuat pelbagai faktor yang membuat setiap pembaca menjadi terpukau dan menikmati alunan ceritanya. Kisah ini juga mengangkat beragam tokoh yang bukan saja terbatas pada manusia. Namun juga mengusung tokoh lain seperti jin dan binatang lantas dikemas sedemikian rupa hingga hubungan antar tokoh pun terceritakan begitu apik.
Kisah Nabi Sulaiman dari sisi peristiwa dan latar cerita mengisahkan kejadian yang sangat langka seperti dialog dengan burung-burung ataupun kejadian biasa semacam ketaatan terhadap penguasa. Meski demikian kisah ini juga menyuguhkan latar cerita yang sangat indah dan memukau. Setiap karakter tokohnya juga dilukiskan begitu jelas hingga mampu mempengaruhi psikologi para pembaca.
Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Quran ini mengisahkan hubungan Sulaiman dengan semut, burung hud-hud dan juga Ratu Balqis. Format utama kisah ini berbentuk kutipan dan dialog. Setiap penggalan kisahnya bergerak dalam alur maju sementara detail ceritanya terungkap dalam kedalaman hati pembaca.
Kisah itu dimulai dengan cerita bala tentara Nabi Sulaiman yang terdiri atas jin, manusia, dan burung-burung. Fragmen pertama kisah ini dinyatakan dalam surat An-Naml ayat 17-19: "Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari". Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Fragmen lainnya mengisahkan tentang kisah seekor burung bernama Hud-hud yang memperkenalkan Nabi Sulaiman tentang seorang raja perempuan bernama Balqis. Kisah ini disebutkan dalam surat An-Naml ayat 20-21: "Dan Dia memeriksa burung-burung lalu berkata: ‘Mengapa aku tidak melihat hud-hud[1093], Apakah Dia Termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar Dia datang kepadaku dengan alasan yang terang".
Kisah itu lantas dilanjutkan dalam dua ayat berikutnya, 22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk". (QS. An-Naml: 22-24)
Kisah itu kemudian berlanjut dengan keraguan Nabi Sulaiman as soal cerita Hud-hud. Beliaupun lantas mengirim surat kepada Balqis dan meminta Hud-hud untuk mencari tahu bagaimana reaksi raja perempuan itu.
Balqis pun lantas membacakan surat dari Nabi Sulaiman itu kepada para pembesar di negerinya untuk meminta pandangan mereka. Namun mereka pun menyerahkan putusan akhir kepada Balqis. Dan akhirnya ia memutuskan untuk memberikan hadiah yang sangat mahal kepada Nabi Sulaiman untuk mengambil hati beliau supaya mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan Saba. Nabi Sulaiman pun lantas memperlihatkan kekuatannya dengan begitu menakjubkan hingga Ratu Balqis dan rakyatnya menerima kepemimpinan Nabi Sulaiman dan memeluk agama tauhid.
Guna menelaah lebih jauh kisah Nabi Sulaiman ini, pertama kami akan ungkap anasir sastrawi dua cuplikan kisah tadi. Kedua cerita itu mengusung tokoh-tokoh selain manusia seperti semut dan burung hud-hud. Keduanya berbicara dengan Nabi Sulaiman sebagai tokoh utama. Kisah itu juga menunjukkan kemampuan ajaib Nabi Sulaiman dalam memahami dan berbicara dengan bahasa binatang. Kisah itu juga dimulai dengan gambaran tentang kebesaran bala tentara Nabi Sulaiman yang terdiri dari manusia, jin, dan burung-burung. Di sini, Al-Quran mengisahkan cerita itu dengan rangkaian kata dan penggunaan majas yang begitu apik. Kendati kisah itu disuguhkan dengan gaya cerita dan bertutur yang minimalis namun mampu menciptakan imajinasi yang begitu kaya di benak pembaca.
Cerita-cerita modern juga kerap menggunakan majas atau kiasan untuk memantik daya khayal pembaca semaksimal mungkin. Karena itu, pilihan dan penempatan rangkaian kata harus tertata sedemikian hingga mampu menyuguhkan kisah yang memukau.
Ada banyak peristiwa menarik dalam kisah Nabi Sulaiman as seperti pencarian untuk menemukan hud-hud, kepemimpinan seorang perempuan atas sebuah negeri, cerita mengenai keindahan dan keagungan tahta ratu Balqis, pengakuan hud-hud tentang suatu perkara yang hingga kini belum diketahui Nabi Sulaiman, peristiwa kedatangan ratu Balqis ke istana Nabi Sulaiman dan ketakjubannya atas keindahan istana sang utusan ilahi itu.
Kisah Nabi Sulaiman ini juga berhasil mengemas unsur "keterkejutan" sedemikian apiknya dalam alur ceritanya. Sebagaimana tampak pada saat Balqis melihat tahta kerajaannya telah dipindahkan ke istana Nabi Sulaiman dan kekagumannya terhadap keindahan dan keajaiban istana nabi. Di sisi lain, kisah ini juga mampu memainkan unsur "penantian" dengan sangat cerdas sehingga pembaca terus merasa tertarik untuk mengetahui kelanjutan cerita. Selain itu, kendati kisah ini memiliki format cerita yang sangat memukau namun kisah tersebut juga mengandung pelajaran yang sangat luhur dan menyampaikannya kepada pembaca secara tidak langsung. (IRIB)

0 komentar:

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Mengenai Saya

Pengikut